Abi Alesya tugas ke Bandung hari ini sampai Sabtu. Aku dan Alesya menginap di rumah nenekku.
Seperti biasa, di mana pun Alesya harus tetap melakukan tugas kemandirian dan kedisiplinan yang biasa ia lakukan di rumah. Karena memang tujuannya semua ini adalah menjadi kebiasaan dan cara hidup Alesya, bukan hanya sekedar agar pekerjaanku lebih ringan.
Di rumah nenekku, ada om dan tante Alesya yang seusia Alesya. Om tantenya yang lain pun masih usia sekolah. Jadi memang Alesya sangat senang di sini karena banyak teman.
Secara kemandirian dalam bermain, Alesya sudah cukup baik. Hanya saja ketika bertemu dengan teman sebaya atau lebih kecil, Alesya cenderung menjadi dominan dan galak. Ini sebenarnya masuk ke area keterampilan hidup yang lain, bukan kemandirian, tapi adab dan kesopanan. Tapi hal ini juga penting dalam menunjang kemandiriannya, khususnya agar aku lebih memberi kebebasan pada Alesya saat bermain dengan temannya tanpa banyak intervensi dariku. Memang karena sifat dominasi dan kegalakan Alesya ini aku jadi harus banyak intervensi agar Alesya tidak melakukan hal kasar pada temannya.
Seperti ketika bermain sepeda om kecilnya tadi, ia memaksa om nya turun dari sepeda bahkan sempat mencubit. Om nya pun mengalah dan menjadi takut. Aku langsung meminta Alesya minta maaf.
"Alesya, ummi kan bilang kalau main sama temen harus apa?"
"Sayang." Jawabnya.
"Nah Om nya sakit dicubit, itu kan sepeda Om, Alesya gak boleh rebut. Minta maaf ya sama Om, sayang Om nya."
Alesya pun turun dari sepeda lalu mengelus kepala Om nya.
Aku masih selalu berusaha mengarahkan Alesya ketika bermain dengan teman sebayanya. Tapi sampai saat ini Alesya masih sering menggunakan kekuatan fisik untuk menguasai mainan. Aku berharap ia segera paham hal ini tidak baik kemudian tidak melakukannya lagi. Harapanku pun nantinya Alesya memiliki kemandirian dalam menjalankan tanggung jawab, seperti langsung meminta maaf ketika ia sadar melakukan kesalahan.
Seperti biasa, di mana pun Alesya harus tetap melakukan tugas kemandirian dan kedisiplinan yang biasa ia lakukan di rumah. Karena memang tujuannya semua ini adalah menjadi kebiasaan dan cara hidup Alesya, bukan hanya sekedar agar pekerjaanku lebih ringan.
Di rumah nenekku, ada om dan tante Alesya yang seusia Alesya. Om tantenya yang lain pun masih usia sekolah. Jadi memang Alesya sangat senang di sini karena banyak teman.
Secara kemandirian dalam bermain, Alesya sudah cukup baik. Hanya saja ketika bertemu dengan teman sebaya atau lebih kecil, Alesya cenderung menjadi dominan dan galak. Ini sebenarnya masuk ke area keterampilan hidup yang lain, bukan kemandirian, tapi adab dan kesopanan. Tapi hal ini juga penting dalam menunjang kemandiriannya, khususnya agar aku lebih memberi kebebasan pada Alesya saat bermain dengan temannya tanpa banyak intervensi dariku. Memang karena sifat dominasi dan kegalakan Alesya ini aku jadi harus banyak intervensi agar Alesya tidak melakukan hal kasar pada temannya.
Seperti ketika bermain sepeda om kecilnya tadi, ia memaksa om nya turun dari sepeda bahkan sempat mencubit. Om nya pun mengalah dan menjadi takut. Aku langsung meminta Alesya minta maaf.
"Alesya, ummi kan bilang kalau main sama temen harus apa?"
"Sayang." Jawabnya.
"Nah Om nya sakit dicubit, itu kan sepeda Om, Alesya gak boleh rebut. Minta maaf ya sama Om, sayang Om nya."
Alesya pun turun dari sepeda lalu mengelus kepala Om nya.
Aku masih selalu berusaha mengarahkan Alesya ketika bermain dengan teman sebayanya. Tapi sampai saat ini Alesya masih sering menggunakan kekuatan fisik untuk menguasai mainan. Aku berharap ia segera paham hal ini tidak baik kemudian tidak melakukannya lagi. Harapanku pun nantinya Alesya memiliki kemandirian dalam menjalankan tanggung jawab, seperti langsung meminta maaf ketika ia sadar melakukan kesalahan.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...