Mood Alesya pagi sampai siang ini sedang kurang bagus. Pulang ke rumah, dia masih meminta untuk menonton ondel-ondel di HP. Aku sempat kasih saat ia makan. Memang salah sih, tapi sebelumnya ia menolak bahkan melepeh makanannya, ketika kukasih HP ia baru mau makan.
Hufftt... ini ujian juga buatku, mau agar ia mudah makan dengan dikasih HP tapi jadi kecanduan atau susah mencari cara agar ia mau makan tapi tidak kecanduan HP. Semoga selalu ada cara yang kedua dan aku tidak menyerah seperti tadi.
Setelah makan aku menawarkan Alesya permainan baru, yaitu meronce sedotan dengan tali. Pengamatanku selama ini memang Alesya masih agak sulit ketika ditawari permainan baru, ia mudah frustasi karena belum familiar dan ketika ia mengalami kesulitan. Tadi ia menolak meneruskan permainan karena menurutnya masih susah. Ia lalu mengacak-acak sedotannya.
Tidak hanya itu, ia pun mengacak-acak mainannya yang lain yang ada di rak. Tragedi Pink Tower minggu lalu pun terulang kembali. Aku memintanya merapihkan sedotan terlebih dahulu, ia menolak dengan diam saja. Aku memintanya merapihkan mainan yang lain, ia pun diam tidak menanggapiku, lalu mengalihkan perhatiannya. Ia lalu hendak mengambil buku.
"Alesya, kalau mau ambil buku mainannya dirapihin dulu ya. Kalau ga mau dirapihin gak boleh ambil buku. Alesya liat kan semuanya berantakan."
Ia sempat merajuk. Akhirnya ia mau merapihkan sedotannya, tapi tidak dengan mainannya yang lain. Aku mengulang instruksi untuk merapihkan mainan dengan arahan yang lebih jelas.
"Alesya, mainannya tolong dirapihin ya. Pompom di sini, kancing di sini, itu (bangun ruang) di sini, itu (puzzle) di sini."
Alesya masih diam mengabaikanku. Ia tidak menjawab tidak juga bergerak mulai merapihkan. Ia bertingkah dengan gerakan yang lambat memain-mainkan benda yang ada di sekitarnya.
Aku mulai emosi. Aku bingung kenapa ia bertingkah seperti itu. Benar-benar mengabaikanku. Aku sudah mengulang instruksi dengan lebih lambat pun ia masih mengabaikan. Aku juga sudah berbicara dengan cara tatap muka, berusaha menggunakan komunikasi produktif, tapi hasilnya nihil.
Sampai akhirnya aku mulai marah karena ia malah tambah mengacak mainannya menggunakan kaki. Astaghfirullah. Aku langsung berbicara dengan intonasi tinggi agar ia mau melipat kaki dan merapihkan mainannya. Karena ia masih mengabaikan, aku pun menggeser kakinya dengan paksa, hiks. Akhirnya ia menangis dengan keras.
Pikiranku jadi cukup kacau tadi. Aku benar-benar tidak paham kenapa ia bisa mengabaikanku seperti itu. Aku sedih ia sekeras itu, ya yang aku amati ia memang anak yang pendiriannya teguh. Aku sering kewalahan dengan keteguhannya. Kadang saat-saat seperti ini mudah sekali syukurku berkurang hiks. Padahal mungkin ini tidak seberapa dibanding yang harus dihadapi orang tua lainnya.
Aku berusaha kembali tenang. Akhirnya ia pun mengerti dan mau merapihkan mainannya ðŸ˜
Subhanallah banyak sekali hal yang menjadi renunganku hari ini. Aku masih kurang memahami tipe anak yang sangat aktif dan teguh pendirian seperti Alesya ini. Kurang ilmu ini lah sebetulnya yang membuatku masih kurang bisa sabar. Aku kehabisan cara menghadapinya.
Alhamdulillah sorenya ia kembali ceria. Abinya juga pulang setengah hari membuat moodku juga menjadi baik. Di setelah waktu berbuka tadi, Alesya membantuku berberes, ia membuang sampah, meletakkan piring kotor ke wastafel, dan meletakkan sendok yang masih bersih ke di meja makan. Masya Allah, bodohnya aku yang masih sering tersulut emosi. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...