Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Di Indonesia bukan hal yang aneh jika ada orang yang mengumpat betapa buruknya keadaan angkutan umum. Baik dari sisi kebersihan, kelayakan kendaraan,  atau cara mengemudi si tuan kendaraan. Bukan pula hal yang unik jika ada orang yang bertingkah semena-mena ketika hendak menumpang kendaraan umum tersebut – berebutan atau sikut kanan kiri. Bahkan Anda tidak perlu heran jika sewaktu-waktu barang yang Anda bawa sudah tidak lagi menjadi milik Anda...

Hmm, maaf sekali, karena paragraf pertama tadi terlalu frontal mengungkap kebobrokan angkutan umum di Indonesia, saya tekankan berdasarkan pengalaman pribadi, khususnya di Ibu Kota dan sekitarnya.

Agar suasana lebih santai, saya harus kemukakan bahwa di dunia ini tidak ada yang terlalu buruk atau bahkan sangat sempurna (kecuali Nabi Muhammad SAW – dalam kepercayaan saya).

Di judul tulisan ini hanya Kereta, angkutan umum, yang saya cantumkan. Ya, karena hanya Kereta yang akan saya bahas. Meskipun angkutan umum lain tidak kalah membuat hidup teman-teman mengalami suka duka.

Semenjak awal Maret hingga minggu terakhir di bulan April ini, saya sangat akrab dengan Kereta, akibat pekerjaan yang harus saya lakukan di Bogor. Minggu pertama dan kedua bekerja di Bogor, dalam sehari saya dua kali naik Kereta, hingga akhirnya saya menyewa kamar kost di Bogor yang membuat intensitas saya naik kereta jadi berkurang. Ini lah yang membuat saya mengalami suka duka naik Kereta.

Saya Memilih Kereta Daripada Mini Bus
Bertanya pada teman, bertanya pada si mbah Google, maka rute yang akan mereka sarankan untuk menempuh jarak Tangerang - Bogor adalah melalui jalan Serpong dan Parung. Kata si mbah sih, jaraknya hampir mencapai 69 KM (Tepatnya dari Sepatan Residence I – Jalan Merdeka, Bogor). But, you know what? Jalan raya di rute tersebut cukup tidak terawat di beberapa titik, alias banyak jalan rusak dan beberapa mobil container cukup mudah dijumpai di sana. Alhasil, debu pun cukup akan menyiksa di sepanjang perjalanan.Dan jika Anda sering naik Mini Bus Tangerang-Parung-Bogor itu, Anda pasti pernah merasakan bagaimana sumpeknya udara di dalam Mini Bus saat penumpang penuh. Adrenalin Anda pun pasti pernah teruji karena supir Mini Bus yang Anda tumpangi melajukan kendaraannya dengan sangat cepat walaupun jalanan rusak atau saat berusaha menyalip container. Fiuh..

Sebenarnya, kereta pun bukan pilihan terbaik. Saat ini, untuk menuju stasiun Bogor dari stasiun Tangerang, Anda harus transit Duri. Beruntung lah ketika transit, kereta yang menuju stasiun Bogor cepat Anda dapatkan, namun terima nasib lah ketika Kereta tersebut harus Anda tunggu dalam setengah sampai satu jam bahkan lebih. Atau Anda juga bisa naik Kereta tujuan apapun, lalu turun di stasiun Manggarai dan berharap Kereta tujuan Bogor yang berangkat dari stasiun Kota lebih cepat menghampiri Anda. :-P

Suka Citanya Naik Kereta
Saya bingung sebenarnya apa yang harus saya ceritakan di bagian ini. Padahal sangat lancar jaya saya mengungkapkan dukanya naik Kereta. :D Tapi, okay.. Sebenarnya naik Kereta itu menyenangkan, walaupun banyak tapinya. Karena idealnya, untuk menuju tempat yang cukup jauh, kita dapat sampai dalam waktu yang relatif lebih cepat dan kita tidak perlu menghadapi kemacetan di jalan raya atau membayar sangat mahal jika menggunakan pesawat. Nah.. jika Anda menggunakan kereta ekonomi, maka Anda tidak perlu takut kelaparan dalam perjalanan, karena ada banyak penjual makanan mondar-mandir di kereta melewati & menawarkan Anda dagangannya. Bahkan, Anda bisa shopping kebutuhan lain di kereta, hehehehe..

Dari sudut positif lain, Anda akan menjumpai berbagai macam orang dengan segala karakternya. Bisa jadi dia adalah seorang pedagang minuman paruh baya yang sangat unik menyebutkan isi dagangannya, pedagang buah muda yang suka melepas kotak dagangan beroda-nya setelah ia dorong cukup kuat lalu membiarkannya berhenti sendiri, bermacam-macam penadah amal dengan segala kondisi dan caranya menarik perhatian, atau bahkan sales asuransi yang mengajak Anda bergabung, dan seorang cowok designer baju pesta yang menjadi perhatian para penumpang sekitar namun Anda malah jadi mengobrol dengannya karena suatu hal terjadi di kereta. Ya, jika Anda orang yang senang bergaul, senang bertemu orang baru, seorang sosialis, seorang penulis, dan lain-lainnya, mungkin Anda akan menyukai kereta, khususnya kereta ekonomi. Hmm..

Inilah Dukanya
Beberapa pengalaman buruk mewarnai gelap perjalanan saya naik kereta. Hal ini menurut saya, merupakan konsekuensi dari masih kurangnya sistem kemanan di dalam kereta, khususnya kereta ekonomi, juga merupakan akibat masih kurangnya nilai-nilai moralitas atau pendidikan di beberapa kalangan di Indonesia.

Anda pernah tahu berita mengenai orang iseng yang melempar batu ke kereta? Saya baru saja merasakannya sendiri, tepatnya jumat malam tanggal 20 April 2012 lalu, ketika saya hendak pulang ke Tangerang.

Sebenarnya ini bukan yang pertama bagi saya, tapi malam itu ada lemparan terhebat. Ketika kereta baru berangkat dari stasiun Cilebut, duar..., ada sesuatu yang mengenai badan kereta, seketika saya dan penumpang lain pun saling memandang, arti bahasa non verbal ini adalah kami saling bertanya-tanya, apa itu?

Karena saya pribadi tahu bahwa itu hanya bunyi lemparan batu, saya pun tidak panik. Tapi, ddduuaaaaaarrrrrrrrr............., suara itu kembali terdengar lagi, begitu dekat, seperti bom lho, dan seketika itu saya dan penumpang lain sangat panik. Ya, sebuah batu kali seukuran kepalan tangan saya semerta-merta masuk ke dalam gerbong kereta, tepatnya melalui kaca jendela sebelah tempat saya duduk. Saya langsung mengucap istighfar lalu hamdalah karena tidak ada yang terluka akibat insiden mengesalkan itu, karena batu masuk tepat di jendela yang tidak ada orang di depannya, hanya saya dan penumpang lain yang cukup dekat dan terkena sedikit pecahan kaca. Alhamdulillah.

Itu kejadian ekstrim kedua yang saya rasakan di kereta. Seketika penumpang lain segera menurunkan penutup jendela (bahasa kerennya gordyn kali ya), berharap itu dapat meminimalisir akibat dari pelemparan batu yang dilakukan oleh orang iseng tersebut. Karena, Anda pasti dapat membayangkan, betapa kuatnya lemparan batu itu hingga dapat menembus kaca kereta yang dilapisi plastik gelap dan sedang berjalan cepat tersebut. Mungkin jika tidak ada lapisan plastik, satu potong kaca itu sudah pecah berantakan, karena saya lihat kaca itu sudah retak-retak kecil di seluruh bagian.

Kejadian ekstrim sebelumnya adalah penjambretan. Yang membuat saya shock adalah saya berada di antara penjambret dan korbannya. Ya Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Waktu itu – saya lupa waktu tepatnya – saya duduk di bagian bangku paling pinggir dekat pintu, kereta ekonomi , berharap tidak kepanasan di dalam kereta tidak ber-AC atau kipas angin itu. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke Bogor, dan ketika baru berangkat dari stasiun Depok Baru, seketika seorang laki-laki yang baru naik dan berdiri di pintu kereta sebelah kanan saya menjambret kalung penumpang yang berada di sebelah kiri saya, kemudian dia loncat turun dan kereta pun berlalu.

Saya bisa apa? Saya hanya kaget dan teriak “copet” dengan suara yang sangat kecil karena melihat penjambret itu sudah turun dari kereta, ya saya langsung sadar tidak ada yang dapat dilakukan lagi selain ikhlas, khususnya ikhlas bagi si korban.

Itu lah kesempatan bagi si penjambret, orang-orang tidak akan menghakiminya karena kereta tidak mungkin berhenti. Dan ini adalah pelajaran bagi kita semua, jangan lah menampakkan perhiasan di tempat-tempat yang tidak tepat. Untungnya, kalung tersebut ternyata bukan emas :D namun si korban bilang pada saya kalung itu hadiah dari teman, jadi tetap sangat sayang sekali. Tapi saya jadi agak gemas dengar cerita si korban, katanya sebelumnya juga dia sudah pernah dijambret di kereta, tapi kenapa tidak belajar dari pengalaman. Ya, kemudian saya hanya dapat mengingatkannya dan berdo’a agar saya tidak mengalami hal serupa.

Ya, itu lah dua cerita duka ekstrim saya naik kereta, ada banyak cerita duka lain sih, tapi ini sudah sangat panjang sekali, hehehe. Semoga dapat berguna bagi teman-teman yang akan naik kereta agar lebih waspada. Dan tulisan saya selanjutnya Insya Allah akan membahas cara berhati-hati naik kereta. Keep reading ya teman.. Salam semangat slalu... :)

Who are you?

Apa yang akan kita katakan ketika ada seseorang yang mempertanyakan siapa kita? Identifikasi pertama yang akan kita sebutkan pasti adalah nama, misalnya; my name is Ria. Kemudian, selanjutnya kita akan menyebutkan apa yang menjadi ciri kita dalam masyarakat, misalnya; I am a college student at Mercu Buana University, atau; I am an accounting staff at one of logistic company.

Seseorang yang baru berkenalan dengan kita mungkin akan cukup puas mendengar jawaban-jawaban tersebut atas pertanyaannya tentang siapa kita, meskipun kemudian ia akan melanjutkan pertanyaan tentang tempat tinggal, nomor handphone, atau lainnya. Namun jika diri kita sendiri yang bertanya, apakah cukup hanya itu? Think it!


Who am I?

Sesekali kita akan berpikir mengenai siapa diri kita, dengan spesifikasi pertanyaan, misalnya; apakah saya orang pintar? Apakah saya baik? Apakah saya menarik? atau, apakah orang menyukai saya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bukan hanya proses berpikir yang kita lakukan, namun juga merasa; siapa dan bagaimana kita sebenarnya. Kita akan mempersepsi, menilai, dan merasakan diri kita sendiri. Semua hal yang kita pikirkan dan rasakan mengenai diri kita tersebut – yang akhirnya kita percayai dan yakini, baik gambaran penampilan fisik, harga diri, ideal diri, peran dan identitas adalah konsep diri kita.

Di sini saya tidak akan membahas siapa diri saya atau siapa diri Anda, namun saya akan berbagi sedikit ilmu pengetahuan dan opini-opini saya mengenai konsep diri. Pembahasan ini pasti berkaitan dengan ilmu komunikasi, karena saya adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dan karena  konsep diri berkembang melalui proses interaksi dengan orang lain – yang tentunya melalui proses komunikasi (George Herberd Mead).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi
-       Orang lain (significant other)
Mungkin Anda akan berpikir, mengapa orang lain berada pada urutan nomor satu sebagai faktor pengaruh konsep diri? Cobalah tetap fokus berpikir, benarkah? Bagaimana mungkin?

Ketika seseorang lahir, ia belum mempunyai konsep diri. Ia tidak bernama. Tidak tahu apakah ia cantik/tampan atau sebaliknya. Apalagi mengenai orang-orang sekitarnya, ia tidak tahu. Namun, semakin ia tumbuh dan berkembang, ia akan mulai diajarkan siapa namanya – yang merupakan hasil pemberian, siapa orang yang memberi ia makanan, menemaninya tidur, menggendong, mengajak bermain, dan sebagainya. Semua itu adalah hasil pembelajarannya dari orang lain, sehingga ia dapat membedakan dirinya sendiri.

Selain itu, kita cenderung ingin menjadi pribadi yang disenangi orang lain, sehingga sadar ataupun tidak kita  berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Kita tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga kita mengikuti apa yang ia mau terhadap diri kita. Meskipun tidak selalu demikian, namun kita pasti pernah melakukan hal tersebut, misalnya untuk menarik perhatian orang lain. Ini pun merupakan contoh mengapa orang lain sangat mempengaruhi konsep diri kita.

Sebagaimana proses komunikasi, proses konseptualisasi-diri ini berlangsung sepanjang hayat kita (Dedy Mulyana: 2000). Jadi, selama kita masih berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, maka konsep diri kita pun akan mengalami perkembangan bahkan perubahan.
Misalnya dahulu ketika masih kecil, orang tua kita sering bercerita tentang dokter, mengatakan bahwa kita suatu saat nanti akan menjadi dokter, maka kita pun akan bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, ketika kita beranjak dewasa – mulai banyak berkomunikasi dengan orang lain, mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, maka boleh jadi cita-cita kita tersebut akan berubah. Inilah salah satu contoh konkret yang mungkin, bahkan pasti Anda semua pernah mengalami.

Namun, mungkin Anda saat ini mulai sadar, tidak semua orang berpengaruh dalam hidup kita. Ya benar, karena itu orang lain di sini di sebut sebagai significant other, orang yang penting. Yang paling utama biasanya adalah keluarga, karena mereka lah orang-orang terdekat pertama kita. Dan semakin kita dewasa, bertambahlah significant other tersebut, seperti sahabat, idola, guru/dosen, kekasih, dan sebagainya.

-          Kelompok Rujukan (Reference Group)
Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan pada artikel Komunikasi Kelompok, kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau membentuk sikap. Seseorang yang menjadi anggota kelompok tertentu akan memainkan perannya sesuai ciri-ciri kelompok tersebut. Misalnya jika Anda adalah anggota aktif dari organisasi Pramuka, maka Anda harus mengikuti norma-norma yang berlaku dan Anda akan memainkan peran Anda sebagai apa dalam organisasi tersebut. Hal ini akan menanamkan sikap tertentu yang mencirikan diri Anda dengan kelompok/organisasi yang Anda ikuti tersebut dan akhirnya akan menjadi konsep diri Anda pada saat itu.

-          Persepsi Diri Sendiri (Self Perception)
Inilah yang merupakan bagian terpenting pada konsep diri, yaitu ketika kita sudah mempercayai dan meyakini seperti apa diri kita melalu proses persepsi yang kita lakukan – yang tentunya dipengaruhi oleh orang lain dan kelompok rujukan, meski sekecil apapun.
Ketika kita berpikir bahwa kita jelek, maka kita akan tidak percaya diri berhadapan dengan orang lain secara face to face. Jika kita berpikir bahwa kita adalah anak nakal, maka kita akan melakukan hal-hal nakal. Inilah yang sangat bahaya, yaitu jika persepsi diri sendiri yang tertanam adalah hal-hal negatif.

Maka, setelah Anda dan saya sudah lebih memahami mengenai konsep diri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, marilah kita setting semua itu agar lebih baik.

Ucapkan Hal yang Baik
Kita bukan hanya dapat dipengaruhi, tetapi juga dapat mempengaruhi. Kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain, terutama menyangkut apa dan bagaimana diri orang tersebut, akan memberikan efek tertentu yang menyentuh konsep dirinya.

Sudah seharusnya kita menyadari hal ini, terutama para orang tua dan pendidik-pendidik lainnya. Banyak orang tua yang tidak benar-benar menyadari bagaimana pengaruh kata-kata yang ia ucapkan terhadap anak-anaknya. Padahal, di luar ilmu komunikasi, kita semua pasti pernah mendengar ungkapan “kata-kata adalah do’a”. Ya begitulah. Karena, seseorang yang sering dikatakan sebagai anak pintar, maka berkemungkinan besar akan berusaha menunjukkan bahwa ia memang pintar, sehingga terkonseplah dalam dirinya bahwa ia memang pintar.

Oleh karena itu, hati-hatilah dalam berkata. Karena kata-kata memanglah tidak bermakna, namun saat kita memberikan makna pada kata-kata tertentu, maka kata-kata itu bagaikan kekuatan yang mungkin dapat membangun atau bahkan menghancurkan.

Berpikir Positif
Pemikiran dan konsep diri yang positif dapat membuat hidup kita lebih sehat karena tidak akan mudah stress. Meskipun tidak ada satu orang pun yang sudah pasti selalu berpikir positif, namun yang terpenting adalah kemauan dan usaha kita untuk mencapai hal tersebut.

Dengan menyadari bahwa orang lain sangat mempengaruhi diri kita, maka ada baiknya kita berusaha untuk memperkecil pengaruh-pengaruh yang bersifat negatif. Dari awal kita sudah harus cermat memilih teman dan kelompok. Selain itu, yang terpenting adalah penanaman pikiran positif dalam diri kita, dengan tetap terbuka untuk menerima saran dan kritik yang membangun kemajuan diri kita. Sehingga jika ada yang mempengaruhi kita ke arah positif, kita dapat berubah lebih baik. Juga  jika kita dipengaruhi hal negatif, misalnya dianggap sebagai orang yang tidak tegas, lemah, tidak kompeten, kita justru dapat menjadikan hal tersebut sebagai pacuan untuk lebih baik.

Kemudian, jangan sampai keinginan kita untuk menarik perhatian orang lain yang membuat kita harus bersikap dan berperilaku sesuai yang ia inginkan membuat kita menjadi lebih buruk. Jadilah orang yang percaya diri dan tidak mudah digoyahkan pendiriannya oleh orang lain. Yang yakin akan kemampuan dan usahanya. Yang bersikap jujur terhadap diri sendiri dan peka terhadap orang lain. Be positif!


Semoga bermanfaat. Salam semangat slalu...

Referensi (Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar : Deddy Mulyana, Psikologi Komunikasi: Jalaluddin Rahmat, dll)

Nah,, ini dia sesuatu yang aku dapat ketika mengikuti acara "Pembekalan Mental Bagi Siswa SMK N 1 Tangerang". Eits... jangan berpikir yang aneh-aneh dulu yah karena ada kata MENTAL, :t.
Apa sih maksud dari acara itu?
Acara tersebut diselenggarakan guna mempersiapkan mental siswa-siswi di sekolahku, khususnya kelas XI (termasuk aku) karena akan segera menginjakkan kaki di dunia usaha/ melaksanakan prakerin. Gitu... :D

Salah satu pemberi materinya adalah Pak Irwan, SE. Direktur Sekolah Buddhi yang juga merupakan alumni SMK N 1 Tangerang.
Banyak sekali yang aku dapat dari acara tersebut. Beberapa catatan yang aku tulis ketika acara itu berlangsung (30/5) akan aku tulis juga di sini.

Sebelumnya, kami dijelaskan mengenai budaya kerja bangsa Indonesia. Memprihatinkan sekali! Disebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki dua budaya, yaitu:

1. Budaya loyoh: yang dimaksud di sini adalah sebagian orang Indonesia memiliki budaya malas bekerja keras, maunya bersantai-santai dan tidak mau repot
2 .Budaya instan: katanya juga, bangsa Indonesia adalah orang-orang yang ingin segalanya didapatkan dengan mudah dan cepat saji (instan).
Nah loh, benarkah? :t. Yah diri kita sendiri lah yang mengetahui kebenarannya. :D

Masih ada lagi sih yang lainnya yang memprihatinkan! Tapi ga perlu diketik deh.... :$

Langsung aja ke point-point plus-plusnya. :D
Inilah hal-hal yang harus dimiliki seseorang dalam bekerja.

Budaya Kerja BAJIK
1. Bersih dan Rapih
2. Aman dan Tertib
3. Jujur dan Bertanggung Jawab
4. Kasih dan Sayang

Mental Pekerja SUKSES
1. Cintailah apa yang kamu kerjakan
2. Berpikirlah positif dan terbuka
3. Jangan pernah menyerah
4. Lakukan semaksimal mungkin, jadilah yang terbaik
5. Belajar dari kesalahan

Selain itu, kita pun harus belajar dari orang-orang di luar sana (luar negeri maksudnya) yang kini negaranya telah maju.

7 prinsip orang Jepang (Bushido):
1. Gi : keputusan yang benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran (jika harus mati dengan keputusan itu, matilah dengan gagah)
2. Yu : berani dan bersikap ksatria
3. Jin : murah hari, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama
4. Re : bersikap santun dan bertindak benar
5. Makoto : bersikap tulus yang setulusnya , sungguh-sungguh dan tanpa pamrih
6. Melyo : menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan
7. Chugo : mengabdi dan loyal

Hebat yah! itu lah prinsip-prinsip hidup di balik kesuksesan orang-orang Jepang. ;)

Sekian dulu deh, udah pegel-pegel nih seharian di depan komputer.
Teman-temanku yang lagi prakerin, SEMANGAT yah! :)

Total Pageviews