Innerchild Dan Masalah Diri Yang Belum Selesai

Jadi tanggal 10 Oktober kemarin itu, kata sebuah akun Instagram, adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Lalu, tersentaklah dengan satu postingan yang sudah agak lama dari akun IG tersebut. Katanya menulislah niscaya kamu akan bahagia. Beberapa waktu sebelumnya pun di grup whatsapp komunitas yang sedang aku ikuti, seseorang berkata, menulis itu adalah salah satu stress release yang ampuh. Jadi teringat dengan rencanaku sendiri yang mau mengisi blog lagi, belajar menulis lagi, dan menjalani mimpi. Tapi kemudian masih stuck, hingga saat ini akhirnya mulai mencoba, pelan-pelan.

Ternyata kalau dipikir-pikir lucu juga anjuran menulis untuk me-relese stress itu. Di aku, semakin stress semakin nggak bisa nulis. Seringkali ingin menulis sesuatu tapi rasanya no idea, writeless. Padahal dulu senang sekali dengan kegiatan menulis. Iya dulu banget jamannya SD-SMP, kegiatan menulis mengalir begitu aja, dengan tulisan tangan. Masuk ke SMK pun masih bisa menulis sedikit, saking sedikitnya ya sesedikit isi blog usang ini lah.


Flashback, Bingung Sendiri!

Setelah menjadi seorang ibu saat ini, yang full time di rumah karena memang keinginan mendidik dan mengurus anak sendiri, tentunya juga sesuai dengan keinginan suami. Kegiatannya tidak lain dan tidak bukan adalah belajar, alias searching-searching tentang ilmu parenting. Yang pada akhirnya selain mempertemukan aku dengan komunitas parenting, juga mempertemukanku dengan komunitas psikolog. Eim, urusan parenting ini CS banget dengan dunia psikologi, mulai dari bagian perkembangan anak, hubungan dalam rumah tangga, juga kesehatan mental si ibu sendiri. Ibu-ibu rentan banget terkena yang namanya stress dan depresi.

Ada satu bahasan yang sangat menarik tentang mental sebagai seorang ibu, ya bapaknya juga sih kalau mau belajar dan menyadari. Tapi karena memang kebanyakan yang sibuk belajar parenting itu memang ibu-ibu, kan bapak-bapaknya sibuk kerja dan biasanya cuma belajar dari isterinya aja. Apalagi yang namanya perempuan, lebih perasa kan ya. Jadinya yang banyak di bahas ya tentang mental si ibu. Bahasan yang menarik itu adalah innerchild dan permasalahan-permasalahan diri sendiri yang belum selesai.

Tentang innerchild, rasanya kalau aku sih dari dulu selalu berusaha berdamai dengan permasalahan ini. Jadi jauh sebelum mengenal istilahnya dan membaca teorinya, dari dulu sudah berusaha supaya jangan sampai sisi kekanak-kanakan, yang menginginkan orang lain merasakan apa yang pernah aku rasain, sampai muncul. Terutama untuk anak ya, dari dulu selalu berpikir jangan sampai anakku merasakan hal-hal buruk yang pernah aku alami. Jadi aku mau berusaha jadi versi orang tua yang aku inginkan. Dan aku benar-benar mau berusaha, inilah alasannya aku nggak mau menyerahkan pengasuhan anak ke orang lain.

Tentang permasalahan diri yang belum selesai. Sebelum membaca teorinya, justru ternyata aku memang selalu sadar kalau aku belum bisa menyelesaikan permasalahan diriku sendiri. Kemudian ini akhirnya menyambung lagi ke innerchild. Walaupun aku sudah berusaha, ternyata aku masih belum bisa melepas bayang-bayang innerchild ini.

Lalu intinya apa? Ya aku sekarang bingung, hahaha.

Banyak hal memang yang seharusnya dipersiapkan sebelum punya anak, sebelum menikah. Salah duanya ya kita harus sudah selesai dengan kedua masalah ini. Tapi nggak semua orang mempunyai masalah yang mudah diselesaikan. Nggak semua orang punya lingkungan yang bisa support dengan baik. Nggak semua orang punya akses ke psikolog untuk membantunya. (Pembelaan diri ini sih)


Refleksi Diri

Mari cut kegalauan!
Daripada akhirnya ngalor-ngidol, baeklah aku coba rekfleksi diri, aku mau coba tulis yang memang perlu aku upgrade dan repair aja dari diriku sendiri.


      1. Manajemen Emosi

Kuakui aku belum stabil sih, masih mudah emosi. Kalau urusan dengan anak, paling mudah emosi itu karena anakku sering sulit makan, ditambah setiap makan dikulum aja nggak mau cepat ditelan. Habis waktu, habis kesabaran kadang. Ini benar-benar masalah yang cukup berat buatku sekarang, karena ya ini salah satu tugas utamaku setiap hari. Suami dan keluarga kadang bukannya nggak mau bantuin kasih makan, tapi ya karena mereka pun pada akhirnya menyerah. -_____-

Entahlah ya, harusnya aku mengapresiasi diriku sendiri dong ya karena paling tidak bisa tetap membuat anakku makan, berat badannya bagus, bahkan kadang membuat orang nggak percaya kalau anakku susah makan, ya karena memang badannya bagus. Artinya aku telaten! Semangat!

Supaya masalah bisa selesai dan emosi nggak naik terus, lagi dan lagi harus bisa memahami anakku sendiri maunya makan apa, dengan cara apa, di mana. Ya semua Alhamdulillah sebenarnya ada hasil.

Terakhir yang sebenarnya paling penting, akunya sendiri yang harus lebih mahir memanajemen emosi. Karena ini intinya.


       2. Menetapkan Tujuan Hidup

Ini menjadi urusan yang paling sulit buatku. Dari dulu aku bingung mau jadi apa. Aku sebenarnya menyukai kegiatan apa. Aku seperti diselimuti kabut dan nggak bisa melihat jalan dan pemandangan di depan. Kadang rasanya aku seperti orang linglung yang nggak tau arah jalanku mau kemana.

Jadi inilah masalah diriku yang belum selesai. Boro-boro deh visioner, diri sendiri mau apa aja bingung. Kemudian setelah membaca teori innerchild itu, aku justru semakin menyalahkan orang lain dan keadaan yang mebuatku begini. Iyes, ini salah, tapi aku masih belum tau harus bagaimana.

Kalian yang baca boleh melirikku dengan sinis, silahkan, jadi setelah lulus SMK mimpiku adalah cepat menikah dengan pacarku. Karena itu satu-satunya cara aku keluar dari rumah, nggak mungkin aku kabur, lebay banget, ataupun cari kerja di luar kota, ya karena aku kuliah cuma di Jakarta dan pacarku pun di sini. Dan karena cuma dia orang terdekatku dan yang membuat aku nyaman, jadi satu-satunya mimpiku ya menikah. Lalu kemudian setelah menikah dengan dia, aku jadi bingung aku mau apa lagi. Aku sudah nggak punya mimpi yang seaneh itu lagi.

Poin yang ini aku masih harus merefleksikan diri lebih dalam lagi. Kegiatan menulis ini menjadi salah satu hal yang ingin aku lakukan dengan rutin, supaya aku bisa menemukan diriku yang dulu semasa kecil suka menulis. Mungkin dengan begitu tingkat stress aku akan berkurang dan aku bisa lebih paham keinginanku sendiri.

Konsultasi dengan psikolog? Entahlah ya, aku mikirnya malah bingung mau konsul apa. Aku juga emang sulit terbuka dengan masalah-masalahku kecuali dengan suamiku, sejak dia masih jadi pacarku dulu. Etapi mungkin dia bisa baca tulisanku ini dulu kali ya? Entahlah ya, aku bingung.

Lebih bersyukur? Sudah kucoba, tapi permasalahannya bukan karena aku kurang bersyukur. Ya masalahnya ini, aku merasa bingung dengan diriku sendiri.


       3. Memperbaiki Hubungan Dengan Dia

Sebut saja dia.
Ini juga sulit. Selama ini aku nggak pernah berharap dia akan berubah lebih baik. Aku cuma butuh dia nggak memercikkan api pertengkaran, itu aja. Tapi ternyata itu pun sulit buatnya.

Akhirnya, dua poin masalahku di atas itu semakin bermasalah karena ini. Aku pun nggak tau bagaimana memperbaiki ini semua. Nggak tau caranya supaya bisa menerima dengan ikhlas keadaan ini.


Sudahkan Saja!

Okey, tadi niatnya mau refleksi diri tapi ternyata tetap galau haha. Supaya ada nilai morilnya tulisan ini, aku cuma mau bilang.:

Kalau kalian adalah orang tua, berusaha yang keras lah agar tidak menggoreskan luka di dalam batin anak kalian. Jika sudah terlanjur perbaikilah hubungan kalian. Walaupun kalian masih banyak permasalahan, seperti permasalahan anehku ini misalnya, anak kalian tidak bertanggung jawab atas itu semua, jadi dia tidak berhak mendapatkan versi dirimu yang terburuk di hadapannya. Berusahalah menyeselaikan masalah itu, jangan biarkan tetap menjadi masalah. Cari tau bagaimana supaya bisa berkonsultasi dengan psikolog jika memang tidak ada lagi yang bisa membantumu.

Kalau kalian belum menikah dan mempunyai permasalahan-permasalahan yang mengusik mental macam ini, perbanyak belajarlah untuk menyelesaikannya. Usahakan selesai secepatnya, supaya kalian bisa melanjutkan hidup dengan tenang. Usahakan selesai sebelum kalian menikah, terutama sebelum punya anak. Cari tau bagaimana supaya bisa berkonsultasi dengan psikolog jika memang tidak ada lagi yang bisa membantumu.


💗💗💗

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...

Total Pageviews