Tantangan kali ini agak blank karena qadarullah tidak bisa mengikuti satu pun kelas pertemuan. Hari pertama kemarin pun berbarengan dengan jadwal diploma Montessori sehingga aku kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan laporan. Setelah jelas bagaimana harus menjalankan tantangannya, qadarullah juga tidak dapat kesempatan membuat laporannya karena harus menemani Alesya sampai akhirnya tertidur dan baru terbangun jam 24.00 pas saat lihat handphone.
Sekian curhatnya.. hehehe
Dari keempat jenis kecerdasan yang dijelaskan pada materi, menurut saya pribadi semuanya sangat penting untuk ditingkatkan secara beriringan sejak dini, tentunya demi mewujudkan kesuskesan dan kebahagiaan hidup anak-anak kita. Dengan mengetahui jenis-jenis kecerdasan tersebut, kita jadi paham bagian mana yang belum kita support secara maksimal dan mengusahakannya agar seimbang dan sesuai kebutuhan anak. Sepengalaman dan pengamatan saya selama ini, memang kecerdasan emosional lah yang kurang diperhatikan oleh para orang tua. Adapun secara keseluruhan, kebanyakan orang tua tidak mempelajari lebih dalam bagimana meningkatkan seluruh kecerdasan ini secara tepat dan maksimal, orang tua kurang mengenali anak kita sendiri untuk meramu cara-caranya. Tapi kita harus tetap yakin selama kita mau berusaha pasti akan selalu ada jalan, Bismillah, semoga kita semua dimudahkan oleh Allah.
Kebetulan karena pada tantangan ini kami diminta untuk memilih salah satu jenis kecerdasan yang ingin ditingkatkan dan dijadikan family projek, maka aku memilih jenis Kecerdasan Menghadapi Tantangan. Momentnya sangat tepat pasca mudik dan liburan. Pun sesuai dengan kecenderungan Alesya sebagai toddler saat ini, yang sudah sangat menantang segala sesuatu.
Jadi selama mudik dan liburan kemarin, aku dan suami cukup melonggarkan aturan pada Alesya. Karena memang situasi dan kondisinya yang tidak mudah diprediksi seperti jika kami hanya menghabiskan waktu di rumah. Salah satu aturan yang kami longgarkan adalah kami membiarkan Alesya memainkan apapun barangku dan suami asal ia bisa sibuk sendiri dan tidak memainkan barang orang lain. Tidak terkecuali gadget, screen time Alesya bisa mencapai 30-60 menit dalam sehari waktu itu. Huft. Maka setelah mudik dan liburan usai, menjadi PR bagiku terutama untuk mengembalikan rutinitas yang lebih baik pada Alesya.
Lanjut ke laporan. Hari pertama kemarin di rumah mertua, setelah aku pulang kuliah, Alesya mengambil dompetku dari tas. Menjelang lebaran kemarin saat aku sedang memasukkan uang ke amplop-amplop hehe, Alesya memang jadi senang memainkan uang. Lalu dia mengeluar-masukkan uang-uangku dari dompet, awalnya aku membiarkan. Kemudian ketika ada tamu yang datang dan mengobrol di depan rumah dengan ibu mertuaku, Alesya berlari ke arah mereka membawa dompetku. Ia pun mengeluarkan uangku kembali dan memberikannya kepada tamu tersebut. Ibu mertuaku dengan tamunya pun menyambut Alesya dan jadi membercandainya.
Aku bergegas menghampiri Alesya dan memintanya untuk masuk ke dalam rumah. Kemarin-kemarin aku membiarkan Alesya memainkan uang sambil aku mengajaknya untuk menghitung jumlah uang-uang tersebut sampai 10. Kali ini aku berpikir harus memberi pemahaman kepada Alesya bahwa uang bukanlah untuk dimainkan. Terutama ketika ia memegang dompet yang bukan miliknya, tidak seharusnya ia membawa dompet tersebut dan mengeluar-masukkan isinya.
Saat aku meminta Alesya masuk ke dalam rumah, ia mengikuti instrusksiku namun dengan meninggalkan selembar uang yang ia berikan kepada tamu. Di dalam aku pun meminta agar ia mengembalikan dompetku, ia menolak. Ia masuk mengeluar-masukkan uangku. Aku pun bersikap lebih tegas.
"Alesya, ini kan bukan punya Alesya, ini dompet ummi dan bukan mainan. Sini kembaliin ke ummi ya."
Ia pun bersikap memiringkan badannya dan menjauhkan dompet dariku. Aku masih berusaha meminta, tapi ia berusaha untuk pergi ke depan rumah lagi.
"Alesyaaa.. mainnya gak pakai dompet ummi ya. Alesya kalau mau ke depan kembaliin dulu dompet umminya."
Aku berusaha menahan badannya agar tidak lolos berlari ke depan, ia pun menangis sambil menolak mengembalikan dompetku.
"Sini.. sini, dompetnya ummi rapihin dulu ya. Emangnya ini punya siapa hayo?"
"Echaa.." Jawabnya. Belakangan ini ia menantang dengan bersikap mempunyai barang apapun yang sedang ia mainkan. Padahal sebelumnya ia menjawab sesuai dengan siapa pemilik barang tersebut.
"No..no.. bukan punya Alesya, punya ummi.."
"IIhhh.. Echaaa.." Ia masih berusaha.
Aku menyadari ia masih akan tetap bersikeras mempertahankan egonya untuk memainkan dompetku. Aku juga sadar dengan usianya saat ini, memang sikap seperti inilah kecenderungan yang ada padanya. Kalau aku pun berikeras dengan kondisi ini, ia akan menangis menjadi dan tidak memahami maksudku. Maka yang kulakukan adalah berusaha mengalihkannya terlebih dahulu.
"Eh Ca, om badut mana ya? Kemarin om badut jualan apa?"
"Ciki."
"Wah kalau beli ciki harus pakai uang ya kan? Dikasih rezeki sama Allah. Nah ini uangnya ummi simpen dulu ya."
"Iya. Om adut mana, Mi?" Pengalihanku berhasil. Alesya memang sedang tertarik dengan Om Badut yang kami temui di Ancol hari minggu kemarin.
"Om Badut sekarang istirahat, mau bobo."
"Dibuka ya, Mi?"
"Iya ya kepala badutnya dibuka, soalnya Om Badut mau bobo. Sini uangnya masukkin dulu, dompetnya ummi simpen ya."
Lalu ia memasukkan uang yang ia pegang ke dalam dompet dan membiarkanku mengambil dompet tersebut. Alhamdulillah. Dengan begini berarti Alesya telah mampu mengontrol dirinya dan secara tidak langsung jadi memahami bahwa memainkan dompet adalah hal yang tidak boleh dilakukan dan ia harus mengembalikan dompet tersebut padaku.
Dalam meningkatkan kecerdasan menghadapi tantangan ini, aku sebagai orang tua memahami bahwa aku harus banyak membantu Alesya. Karena tidak mungkin, tanpa arahan dan percontohan, Alesya akan mampu menguasai kecerdasan tersebut dengan maksimal. Usia emas ini menjadi moment terbaik untuk menanam dan memupuk semua hal yang baik.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...