Subhanallah karena memang sedang banyak kegiatan, aku jadi kurang usaha untuk meluangkan waktu menulis laporan tantangan. Bismillah semoga tantangan game level 3 ini tetap dapat kupenuhi dengan baik.
Alesya adalah anak yang senang dengan keramaian dan tertarik dengan lingkungan sosial. Tapi begitu, tentu saja banyak hal-hal yang perlu kuarahkan.
Beberapa hari lalu kami mengunjungi buyut Alesya. Di sana tempatnya keluargaku, hampir semua tetangga adalah saudara. Alesya tentu sangat senang setiap main di sana, karena banyak teman sebaya dan tante-tantenya yang masih usia sekolah.
Berinteraksi dengan lingkungan sosial selalu menjadi tantangan bagi anak-anak seusia Alesya, meskipun ia sangat tertarik kegiatan tersebut. Ketika bertemu teman sebayanya, aku tentu harus mengawasi dengan baik. Di satu sisi aku memahami bawa mereka masih dalam fase egosentris dan kecerdasan sosialnya masih dalam tahap mulai berkembang, di sisi pribadi aku pun mengamati Alesya adalah anak yang teguh dan kuat. Ia bisa berinteraksi dengan teman sebayanya, tapi ketika terjadi perebutan mainan misalnya, ia bisa menunjukkan kekuatannya untuk menang. Jadi tak jarang ada anak yang nangis karena Alesya, huft.
Hal itu sering terjadi ketika main di rumah buyutnya. Meskipun paling muda usianya, tapi Alesya terkenal yang paling teguh dan kuat. Tante dan Om kecilnya selalu mengalah ketika Alesya ingin memainkan sesuatu. Tapi selama ini aku berusaha tidak membiarkan hal itu terjadi terus-menerus. Ketika aku melihat Alesya ingin memainkan barang yang dimainkan Tante dan Om nya, aku meminta Alesya memainkan yang lain. Meskipun Tante dan Om nya sudah mengalah serta tanpa terjadi perebutan, aku berusaha tetap memberi pengertian pada Alesya bahwa bermainnya harus bersama dan bergantian, terlebih jika barang itu bukan miliknya.
Hari itu, aku melihat ada perkembangan yang baik dari diri Alesya. Ia dapat bermain dengan baik bersama Tante dan Om nya. Minim sekali perselisihan. Meskipun masih mendominasi, tapi ia mau lebih bermain secara bersama.
Aku sempat mendokumentasikan ketika Alesya makan bersama dengan Tante dan Om kecilnya. Dulu Alesya sering yang menjadi pemegang utama piring makanan, tapi kemarin ia tidak keberatan ketika piring makanannya diletakkan di tengah-tengah tanpa ia pegang sendiri. Mereka pun makan dengan baik sampai selesai.
Lalu ketika kedatangan dua tetangga laki-laki yang masih sebayanya dan sebelumnya hanya beberapa kali bertemu, Alesya pun bersikap manis sekali. Ia mau bermain dengan mereka, tanpa ada sedikitpun drama Alesya bersikap lebih kuat. Justru malah terlihat Alesya mengajak mereka untuk main bersama dengan baik. Padahal kupikir ini adalah tantangan baginya saat itu, karena memang Alesya sering langsung menunjukkan kekuatannya ketika bermain dengan teman baru atau yang jarang bertemu.
Alhamdulillah, aku senang karena pengertian yang kuberikan padanya tentang bagaimana bersikap terhadap teman cukup berhasil. Dari sini kuamati kecerdasannya menghadapi tantangan dan emosionalnya pun semakin berkembang dengan baik.
Alesya adalah anak yang senang dengan keramaian dan tertarik dengan lingkungan sosial. Tapi begitu, tentu saja banyak hal-hal yang perlu kuarahkan.
Beberapa hari lalu kami mengunjungi buyut Alesya. Di sana tempatnya keluargaku, hampir semua tetangga adalah saudara. Alesya tentu sangat senang setiap main di sana, karena banyak teman sebaya dan tante-tantenya yang masih usia sekolah.
Berinteraksi dengan lingkungan sosial selalu menjadi tantangan bagi anak-anak seusia Alesya, meskipun ia sangat tertarik kegiatan tersebut. Ketika bertemu teman sebayanya, aku tentu harus mengawasi dengan baik. Di satu sisi aku memahami bawa mereka masih dalam fase egosentris dan kecerdasan sosialnya masih dalam tahap mulai berkembang, di sisi pribadi aku pun mengamati Alesya adalah anak yang teguh dan kuat. Ia bisa berinteraksi dengan teman sebayanya, tapi ketika terjadi perebutan mainan misalnya, ia bisa menunjukkan kekuatannya untuk menang. Jadi tak jarang ada anak yang nangis karena Alesya, huft.
Hal itu sering terjadi ketika main di rumah buyutnya. Meskipun paling muda usianya, tapi Alesya terkenal yang paling teguh dan kuat. Tante dan Om kecilnya selalu mengalah ketika Alesya ingin memainkan sesuatu. Tapi selama ini aku berusaha tidak membiarkan hal itu terjadi terus-menerus. Ketika aku melihat Alesya ingin memainkan barang yang dimainkan Tante dan Om nya, aku meminta Alesya memainkan yang lain. Meskipun Tante dan Om nya sudah mengalah serta tanpa terjadi perebutan, aku berusaha tetap memberi pengertian pada Alesya bahwa bermainnya harus bersama dan bergantian, terlebih jika barang itu bukan miliknya.
Hari itu, aku melihat ada perkembangan yang baik dari diri Alesya. Ia dapat bermain dengan baik bersama Tante dan Om nya. Minim sekali perselisihan. Meskipun masih mendominasi, tapi ia mau lebih bermain secara bersama.
Aku sempat mendokumentasikan ketika Alesya makan bersama dengan Tante dan Om kecilnya. Dulu Alesya sering yang menjadi pemegang utama piring makanan, tapi kemarin ia tidak keberatan ketika piring makanannya diletakkan di tengah-tengah tanpa ia pegang sendiri. Mereka pun makan dengan baik sampai selesai.
Lalu ketika kedatangan dua tetangga laki-laki yang masih sebayanya dan sebelumnya hanya beberapa kali bertemu, Alesya pun bersikap manis sekali. Ia mau bermain dengan mereka, tanpa ada sedikitpun drama Alesya bersikap lebih kuat. Justru malah terlihat Alesya mengajak mereka untuk main bersama dengan baik. Padahal kupikir ini adalah tantangan baginya saat itu, karena memang Alesya sering langsung menunjukkan kekuatannya ketika bermain dengan teman baru atau yang jarang bertemu.
Alhamdulillah, aku senang karena pengertian yang kuberikan padanya tentang bagaimana bersikap terhadap teman cukup berhasil. Dari sini kuamati kecerdasannya menghadapi tantangan dan emosionalnya pun semakin berkembang dengan baik.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...