Pada hari kedua tantangan, aku sebenarnya agak khawatir ia tidak fokus diajak main karena ada Om kecilnya ke rumah. Om nya pun cukup sibuk dengan HP, telepon dan chat dengan teman-temannya. Tapi ternyata alhamdulillah Alesya tidak begitu terpengaruh, ia tetap sibuk bermain dengan mainannya, walaupun sesekali ia menghampiri Om nya untuk melihat apa yang ia lakukan di HP. Ia memang masih mudah terganggu oleh keadaan sekitar (auditori).
Hari kedua itu ia masih sibuk dengan lilin mainannya. Tapi mainnya agak berantakkan dan tidak teratur. Sampai akhirnya ia malah memainkan wadah penyimpanan lilin. Ia terlihat asyik membuka dan berusaha menutupnya kembali, sambil ia mencoba menghitung sampai 9. Ia belum aku ajarkan dengan serius konsep hitungan dalam matematika, oleh karena itu walaupun hanya ada 3 wadah, ia tetap menghitungnya sembilan.
Lalu ketika malam, Alesya sibuk mengempeskan dan meniup balon mainannya. Ciri-ciri yang ia tunjukkan ketika diajari sesuatu dan bermain, sampai saat ini masih lebih dominan kinestik. Ia senang berbicara namun dengan perlahan, tidak sabar untuk langsung praktek, dan selalu berusaha menarik perhatian orang dengan kata-kata yang mengandung aksi ketika bermain.
Lalu ada hal yang menggelitikku ketika ia kuajari kembali cara menggulung alas kerja, saat ia sudah berhasil menggulungnya, ia memegang alas tersebut dan membawanya seperti tongkat lalu berkata, "otong..otong.."
Aku terkejut karena ia menyebut nama Otong dan menirukan gayanya. Otong adalah nama tukang pijat tuna netra dekat rumah mertuaku. Benar memang, anak adalah peniru ulung. Ini yang dulu juga terjadi pada adikku, Om kecil Alesya, ia sering menirukan tukang-tukang jajanan yang lewat di depan rumah. Di satu sisi aku memaklumi hal ini karena tadi, anak adalah peniru ulung, di sisi lain aku harus mampu memberi pengertian bahwa meniru gaya orang lain seperti itu secara norma tidaklah baik.
Lalu ada hal yang menggelitikku ketika ia kuajari kembali cara menggulung alas kerja, saat ia sudah berhasil menggulungnya, ia memegang alas tersebut dan membawanya seperti tongkat lalu berkata, "otong..otong.."
Aku terkejut karena ia menyebut nama Otong dan menirukan gayanya. Otong adalah nama tukang pijat tuna netra dekat rumah mertuaku. Benar memang, anak adalah peniru ulung. Ini yang dulu juga terjadi pada adikku, Om kecil Alesya, ia sering menirukan tukang-tukang jajanan yang lewat di depan rumah. Di satu sisi aku memaklumi hal ini karena tadi, anak adalah peniru ulung, di sisi lain aku harus mampu memberi pengertian bahwa meniru gaya orang lain seperti itu secara norma tidaklah baik.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...