Dengan keadaan hamil seperti ini dan memiliki anak yang anak yang aktifnya luar biasa, membuatku sering kewalahan. Mau tidak mau suami menjadi tumpuan ketika kami sedang bersama. Terkadang, ia pun harus amengalah menemani Alesya yang masih aktif main meskipun sudah lelah.
Hari ini kami ada acara keluarga, di hotel tempat kami menginap ada kolam renangnya. Aku sudah berencana tidak ingin berenang karena memang kondisi yang kurang fit. Sementara Alesya sudah pasti ingin sekali berenang, karena memang ia sangat suka dengan kegiatan tersebut. Bahkan ia berani melompat dengan dibiarkan agak menyelam terlebih dahulu baru diangkat.
Sampai di hotel, Alesya sudah sangat bersemangat ketika melihat ada kolam renang. Bekali-kali berusaha membuka bajunya dan minta berenang. Lalu akhirnya bersama sepupu Alesya yang sudah lebih besar, Alesya ikut berenang. Tapi ia kurang bersemangat dan meminta Abinya untuk ikut berenang.
"Bi, ayo enang, " ajaknya. Tetapi Abinya tidak mau karena merasa lelah setelah menyetir mobil.
"Alesya sama mas aja ya, nih minta temenin sama Pakde. Abi gak berenang."
Alesya pun berenang bersama Pakde nya, tapi tetap tidak bersemangat. Ia lebih banyak duduk di pinggir kolam dan tidak mau ikut turun ke air.
"Bi, kasihan tuh anaknya gak semangat gitu. Gak percaya dia berenang sama Pakde nya hahaha." Kataku berbicara sambil tertawa.
"Udah bi, kamu berenang lah sebentar temenin anaknya. Gak usah lama-lama ajak udahan." Pintaku dengan jelas sambil melakukan eye contact.
"Biarin aja dulu lah, Mi. Males abi celana nya di kamar." Jawabnya.
Kami masih memperhatikan Alesya dan sesekali menyemangatinya untuk turun ke air. Tapi lagi-lagi ia memilih kembali dan duduk di pinggir kolam. Setelah beberapa lama, aku meminta suami lagi untuk menemani Alesya. Waktunya tepat.
"Wah gak semangat dia Bi berenangnya. Gak percaya dia kalau bukan sama Abinya." Jelasku.
Akhirnya suami pun bergegas ke kamar mengambil celana untuk renang dan handuk. Lalu langsung menemani Alesya berenang. Benar saja, Alesya menjadi bersemangat dengan Abinya. Ia mau diajak turun ke air, loncat dari pinggir ke dalam air, dan menyelam.
Komunikasi kali ini membutuhkan pengulangan dan waktu yang lebih tepat agar suami mau melakukan yang kusampaikan.
Hari ini kami ada acara keluarga, di hotel tempat kami menginap ada kolam renangnya. Aku sudah berencana tidak ingin berenang karena memang kondisi yang kurang fit. Sementara Alesya sudah pasti ingin sekali berenang, karena memang ia sangat suka dengan kegiatan tersebut. Bahkan ia berani melompat dengan dibiarkan agak menyelam terlebih dahulu baru diangkat.
Sampai di hotel, Alesya sudah sangat bersemangat ketika melihat ada kolam renang. Bekali-kali berusaha membuka bajunya dan minta berenang. Lalu akhirnya bersama sepupu Alesya yang sudah lebih besar, Alesya ikut berenang. Tapi ia kurang bersemangat dan meminta Abinya untuk ikut berenang.
"Bi, ayo enang, " ajaknya. Tetapi Abinya tidak mau karena merasa lelah setelah menyetir mobil.
"Alesya sama mas aja ya, nih minta temenin sama Pakde. Abi gak berenang."
Alesya pun berenang bersama Pakde nya, tapi tetap tidak bersemangat. Ia lebih banyak duduk di pinggir kolam dan tidak mau ikut turun ke air.
"Bi, kasihan tuh anaknya gak semangat gitu. Gak percaya dia berenang sama Pakde nya hahaha." Kataku berbicara sambil tertawa.
"Udah bi, kamu berenang lah sebentar temenin anaknya. Gak usah lama-lama ajak udahan." Pintaku dengan jelas sambil melakukan eye contact.
"Biarin aja dulu lah, Mi. Males abi celana nya di kamar." Jawabnya.
Kami masih memperhatikan Alesya dan sesekali menyemangatinya untuk turun ke air. Tapi lagi-lagi ia memilih kembali dan duduk di pinggir kolam. Setelah beberapa lama, aku meminta suami lagi untuk menemani Alesya. Waktunya tepat.
"Wah gak semangat dia Bi berenangnya. Gak percaya dia kalau bukan sama Abinya." Jelasku.
Akhirnya suami pun bergegas ke kamar mengambil celana untuk renang dan handuk. Lalu langsung menemani Alesya berenang. Benar saja, Alesya menjadi bersemangat dengan Abinya. Ia mau diajak turun ke air, loncat dari pinggir ke dalam air, dan menyelam.
Komunikasi kali ini membutuhkan pengulangan dan waktu yang lebih tepat agar suami mau melakukan yang kusampaikan.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...