Di luar percakapan yang aku laporkan dalam tantangan komunikasi produktif ini, sebenarnya beberapa kali aku mengalami kesalahan penerimaan makna pesan dari suami. Di kasus pertama aku berdalih pemilihan kata yang suami sampaikan yang kurang tepat menurutku. Tapi kemudian di kasus kedua ini, ternyata memang karena aku yang kurang menyimak dengan baik hehe.
Berawal di hari kemarin sebelum suami pergi bekerja, aku mendengarkan percakapan suami dengan teman sekantornya bahwa ia ingin berbicara dengan bos mereka untuk pengajuan resign. Di percakapan itu suami bilang akan menemui bosnya setelah makan siang. Setelah percakapan mereka selesai, suami tidak berkata apa-apa padaku. Tapi memang suami berbicara dengan keras dan aku sedang berada di dekatnya, ia pun tahu aku mendengarkan.
Kemudian sore harinya suami mengirim screenshot percakapan dengan bosnya melalui WhatsApp. Dia pun menulis agar Aku mendoakannya. Aku memang membaca screenshot tersebut, namun aku berpikir justru suami akan menghadap bosnya saat itu juga makanya ia meminta aku mendo'akannya.
Sehingga malamnya aku kembali WhatsApp suami menanyakan hasil pengajuan resign nya. Suami membalas, "Besok keles." Lalu di lanjut, "Aku lagi meeting conference call, baru mulai jam 8."
Dari balasan suami, kupikir yang dimaksud suami adalah ia akan bercerita kepadaku tentang hasil pengajuan resign nya besok pagi di rumah. Sehingga akhirnya pun, tadi pagi aku menanyakan kembali hasil pengajuan tersebut.
"Bi, jadi gimana hasilnya?" Tanyaku polos.
"Kan baru hari ini mau bahas, Mi."
"Lah bukannya kemarin sore itu kamu bahasnya?" Aku bertanya bingung.
"Hari ini, Mi. Kan aku kirim screenshot chat nya sama kamu."
"Aku pikir yang kamu kirim screenshot itu tuh chat sama bos kamu yang dari kapan, terus kamu udah mau ketemu sama bos kamu pas WhatsApp aku." Jelasku malu.
"Terus aku kan nanya hasilnya, kamu jawab besok tuh aku pikir ya kamu mau ceritanya hari ini karena lagi meeting semalem haha."
"Nah kan ketahuan siapa yang miring." Ledek suami.
Lalu kami melanjutkan pembicaraan mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan ditawarkan oleh bos suami agar tidak resign.
Salah persepsi yang aku lakukan ini sebenarnya jarang sekali terjadi. Tapi dalam minggu ini sudah terjadi dua kali dan cukup aneh. Entah mungkin karena hormon yang sedang berubah di dalam diriku? Hehe. Yang jelas, kasus kedua ini berawal karena tidak ada clear & clarify yang dilakukan dan kaidah 3-78-55, sehingga lebih memungkinkan makna yang diterima menjadi tidak sesuai.


No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...