Sejak kemarin suami ingin sekali memanggil tukang pijat ke rumah, tapi kebetulan kemarin itu tukang pijat langganannya sedang ada panggilan juga.
Tadi terdengar suara hentakan tongkat tukang pijat tunanetra lewat depan rumah kami, suamiku langsung bilang kepadaku ingin pijat lalu bergegas memanggil tukang pijat tersebut. Ketika suami sedang bersiap untuk melakukan pijat aku berbisik padanya.
"Bi, nanti kalau udah selesai gantian ya pijitin aku." Kataku mesam-mesem. Suami tak merespon. Memang bukan komunikasi di waktu yang tepat, anggap saja sebuah sounding hehehe.
Lalu ketika suami selesai pijat dan sedang bersantai memegang HP sambil menunggu air bak kamar mandi penuh untuk mandi, aku menghampirinya. Dengan manja aku pun bergelendot padanya.
"Bi, ntar abis mandi pijitin aku ya. Badanku juga rasanya udah nggak enak banget, apalagi punggung. Aku mah nggak perlu pijat mahal-mahal ke salon, lebih enak dipijitin sama kamu." Kataku jelas dan dengan kaidah 3-78-55.
"Iya, iya." Jawab suami sambil kami lanjut bercanda hal lain.
Dari dulu memang aku sangat suka minta dipijat dengan suami. Walaupun hanya dipijat sebentar tidak selama di salon, tapi rasanya sangat enak karena tepat dipijat di titik yang aku merasa pegal. Jadi kata-kataku tadi merayu suami adalah perkataan jujur bukan sekedar merayu heheh
Ketika melakukan permintaan pada suami, tentunya komunikasi produktif sangat berperan penting dalam keberhasilan tujuan kita sehingga tidak boleh ada satu kaidah yang terlewatkan hihi.

No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...