Kisah sedih hari ini bukanlah apa yang tadi siang Alesya lakukan, tapi laporan yang sudah kutulis hilang begitu saja ketika handphone suami yang kupinjam untuk mengetik, tiba-tiba habis batrenya, hiks. 😂
Jadi hari ini kami banyak beraktivitas di luar rumah. Sebelum pergi, Alesya minta bermain pompom. Aku pun berkata padanya untuk ambil mainannya sendiri dan jangan lupa gunakan alas.
Aku tidak begitu memperhatikannya bermain karena harus siap-siap. Lalu tiba-tiba Alesya mendatangiku.
"Yah Mi, patah."
Ternyata dia mematahkan penjepit pompom. Aku diam sejenak berpikir kata-kata apa yang harus kugunakan untuk meresponnya. Kemungkinan dia penasaran seberapa bisa dilebarkannya penjepit pompom itu.
"Yah patah ya. Mainnya pelan-pelan ya. Kalau patah kan jadi ga bisa dimainin lagi."
"Iya." Jawabnya.
Alesya termasuk yang jarang merusakkan mainan. Jadi aku pun bisa merespon kejadian tadi dengan tenang. Rasa penasarannya terhadap sesuatu juga memang sedang tinggi. Kejadian seperti ini memberikan dia pelajaran tersendiri batas menggunakan suatu barang. Jadi aku tidak perlu merespon berlebihan, cukup memberitahunya akibat yang akan ia terima.
Kemudian di luar target kemandirian yang aku tetapkan saat ini, semakin hari kuperhatikan cara Alesya menggunakan alat makannya semakin baik. Alhamdulillah. Aku memang berusaha menuntun Alesya untuk mandiri dalam segala hal yang bisa ia kerjakan. Tapi aku pun sadar tidak semua hal itu bisa langsung kutarget pada Alesya untuk dikuasainya dengan baik. Semuanya butuh proses. Saat ini Alesya masih dalam masa menyerap dengan pikiran bawah sadar, nanti ketika pikiran sadarnya sudah terbangun dengan baik, semua hal yang diterapkan saat ini pasti tertanam pada dirinya. Insya Allah.
Jadi hari ini kami banyak beraktivitas di luar rumah. Sebelum pergi, Alesya minta bermain pompom. Aku pun berkata padanya untuk ambil mainannya sendiri dan jangan lupa gunakan alas.
Aku tidak begitu memperhatikannya bermain karena harus siap-siap. Lalu tiba-tiba Alesya mendatangiku.
"Yah Mi, patah."
Ternyata dia mematahkan penjepit pompom. Aku diam sejenak berpikir kata-kata apa yang harus kugunakan untuk meresponnya. Kemungkinan dia penasaran seberapa bisa dilebarkannya penjepit pompom itu.
"Yah patah ya. Mainnya pelan-pelan ya. Kalau patah kan jadi ga bisa dimainin lagi."
"Iya." Jawabnya.
Alesya termasuk yang jarang merusakkan mainan. Jadi aku pun bisa merespon kejadian tadi dengan tenang. Rasa penasarannya terhadap sesuatu juga memang sedang tinggi. Kejadian seperti ini memberikan dia pelajaran tersendiri batas menggunakan suatu barang. Jadi aku tidak perlu merespon berlebihan, cukup memberitahunya akibat yang akan ia terima.
Kemudian di luar target kemandirian yang aku tetapkan saat ini, semakin hari kuperhatikan cara Alesya menggunakan alat makannya semakin baik. Alhamdulillah. Aku memang berusaha menuntun Alesya untuk mandiri dalam segala hal yang bisa ia kerjakan. Tapi aku pun sadar tidak semua hal itu bisa langsung kutarget pada Alesya untuk dikuasainya dengan baik. Semuanya butuh proses. Saat ini Alesya masih dalam masa menyerap dengan pikiran bawah sadar, nanti ketika pikiran sadarnya sudah terbangun dengan baik, semua hal yang diterapkan saat ini pasti tertanam pada dirinya. Insya Allah.


No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...