Berusaha Selalu Meminta Ijin

Sejak kemarin aku sedang memperhatikan Instagram Story seorang kenalanku. Dia sedang menggalang dana untuk anak temannya yang terkena kanker hati langka, yang menyerang anak-anak usia di bawah 3 tahun.

Hatiku tergerak untuk ikut membantu. Senang rasanya melihat banyak orang yang sudah membantu, dalam beberapa hari dana yang terkumpul sudah lumayan banyak sekali.

Sebelum menjalankan niatku, aku ingin meminta ijin suami terlebih dahulu. Karena walaupun keuangan aku yang mengatur dan yang akan aku lakukan ini adalah niat baik yang pastinya tidak akan ia tolak, tapi bagaimanapun aku tetap harus meminta izin dan ridhonya.

Tadi saat kami sedang duduk bersantai, aku mulai bercerita tentang keadaan anak yang sakit itu, Keano namanya. Kupikir itu waktu yang tepat untuk bercerita. Dan benar saja, suami mendengarkan dengan serius bahkan terlihat penasaran.

Kuceritakan sesuai isi dari Instagram Story kenalanku itu. Selama ini, Keano sehat, pertumbuhan dan perkembangannya baik, tidak ada  keluhan apapun. Hanya berat badannya sempat stuck, tidak jelas berapa bulan tapi dari fotonya masih terlihat montok. Sampai akhirnya, tiba-tiba ada benjolan keras di sekitar bawah dada. Orang tuanya langsung membawa Keano ke rumah sakit untuk CT Scan. Hasilnya seperti tumor, tapi samar sehingga dokter meminta usg dan tes lain.

Setelah keluar hasilnya, semua keluarga kaget karena Keano divonis kanker hati langka. Kondisinya drastis langsung menurun, lemas tidak nafsu makan, hingga perut membuncit. Saat ini ia sedang diikhtiarkan kemoterapi herbal. Dokter sebenarnya meminta kemoterapi seperti biasanya di Rumah Sakit, tapi orang tuanya masih belum sanggup mengingat efek samping yang akan didapat Keano nanti. Rencananya kalau proses kemoterapi dan pengobatan saat ini sudah dapat mengecilka  sedikit ukuran tumor agar lebih jauh dari jantung, Keano akan dioperasi.

Setelah aku selesai cerita dan belum sempat bicara tentang niatku, suami langsung bertanya klarifikasi. Terlihat wajahnya tegang.

"Terus, maksud kamu cerita ke aku apa?"

Aku menangkap kekhawatirannya. Jangan-jangan aku cerita ini karena takut Alesya juga kenapa-kenapa. Karena 2 bulan ini berat badan Alesya juga stuck. Lalu aku langsung menjelaskan.

"Gak apa bi, ini aku cuma cerita aja. Maksudnya aku mau ikut kasih bantuan, jadi aku ngomong sama kamu."

"Oh gitu, yasudah." Jawabnya.

Seringkali memang kalau bercerita suatu hal, aku baru mengungkapkan maksudku setelah cerita selesai. Hari ini jadi pembelajaran buatku, sebelum bercerita yang akan panjang melebar, lebih baik mengungkapkan apa yang kumaksud di awal sehingga suami tidak keliru memaknai cerita.

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...

Total Pageviews