Isteri Yang Tidak Mau Rugi
Dipan Yang Teronggok
Biasanya setiap ada pertemuan yang dilakukan di rumah, aku langsung memanggil jasa Go-Clean agar lebih ringan merapihkan seluruh rumah. Tapi kali ini kupikir lebih baik setelah tamu pulang, barulah memanggil Go-Clean dengan pertimbangan sore-malam hari adalah waktunya energiku drop dan perut yang sering tidak karuan karena kehamilan kedua ini. Jadi pastinya aku tidak akan sanggup untuk merapihkan rumah lagi.
Pekerjaan tadi pagi, aku fokus merapihkan bagian dalam rumah sementara suami bagian luar rumah dan garasi. Lalu suami membongkar kerangka dipan pemberian Uwak kami, yang telah teronggok di garasi selama beberapa bulan. Ia pun mendapati kotoran tikus yang begitu banyak. Aku yang melihat hal itu semakin keras ingin dipan tersebut segera diberikan kepada orang lain.
Sebelumnya suami sudah menawarkan kakaknya untuk menggunakan dipan tersebut dengan telebih dahulu me-reparasinya, karena kondisinya yang sudah banyak kerusakan dan perlu difurnish ulang.
"Memang gimana Mas Ais Bi, mau pakai nanti?" Tanyaku langsung.
"Nggak tau. Diem aja nggak ada jawaban."
"Mas Ais pasti nggak mau Bi, kamu kan tau sendiri pasti maunya beli model baru." Jawabku dengan pendapatku sendiri sesuai dengan referensi dari kebiasaan yang diperlihatkan kakak.
"Ya tapi ini kan kayu jati, Mi. Sayang, kayu bagus."
"Terus gimana dong? Mas Ais kan kayaknya nggak mau. Masa mau dibiarin aja di sini?"
"Makanya aku bilang kan pakai sendiri."
Selama beberapa bulan ini akhirnya dipan tersebut terus teronggok di garasi, karena memang aku menolak menggunakannya. Sementara suami merasa dipan tersebut bernilai antik dan tidak ingin menjualnya ke tukang loak, meskipun harus me-reparasinya dengan harga lumayan mahal.
Aku menarik nafas, mencoba untuk merespon suami menggunakan kalimat yang jelas dan baik. Menurutku saat ini, pas ketika suami membongkarnya, adalah saat yang tepat untuk memutuskan nasib dipan tersebut.
"Gini Bi. Mumpung lagi dibongkar. Mending kamu putusin mau dikemanain dipannya. Kalau aku sampai sekarang masih nggak mau pakai. Apalagi kita sebentar lagi punya bayi, jadi aku masih lebih nyaman tanpa dipan biar aman. Kamar juga malah jadi sempit kalau pakai dipan. Nah kalau dibiarin aja di sini malah semakin rusak. Karena Mas Ais juga nggak mau pakai, mendingan jual aja langsung Bi."
"Sayang, Mi. Kalau nggak mau pakai sekarang nggak apa-apa. Aku reparasi dulu nanti simpen yang lebih rapih."
"Mau disimpen di mana, Bi? Di belakang juga kondisi nggak memungkinkan, lembab, sayang kan udah direparasi mahal terus disimpen malah jadi jelek lagi."
Pembicaraan dipan ini sempat membuat agak tegang. Selain hal yang aku sampaikan ke suami tadi. Aku pun memang banyak pertimbangan lain yang sebelumnya sudah pernah aku sampaikan, seperti saat ini kami masih ngontrak, aku tidak ingin menyimpan banyak barang apalagi yang tidak digunakan sehingga menyulitkan kami sendiri semisal nanti harus pindah. Jika nanti pun kami mempunyai rumah (yang mana sampai sekarang masih bersabar menabung agar tidak terjerat hutang dan riba) aku ingin menambah kesabaran mewujudkan konsep rumah dengan furniture bergaya minimalis. Hehe, memang sudah menjadi impian sejak dulu, jadi model dipan (model dulu) tersebut tidak masuk kriteria furniture yang aku inginkan, setipe deh sama kakak suami hihi.
"Yasudah, itu kan aku yang nggak mau. Silahkan kamu mau putusin gimana. Yang penting aku minta diputusin sekarang jangan dinanti-nanti lagi ya."
Aku pasrah suami mau apakan dipan tersebut. Kalaupun mau direparasi dan digunakan, aku akan berusaha menerima keputusan suami. Fokusku akhirnya adalah membuat dipan tersebut jelas kegunaannya, tidak menjadi sarang kotoran, dan tidak merusak pemandangan garasi rumah yang terlihat dari luar.
Suami tidak memberiku penjelasan keputusannya. Aku tidak bertanya lagi, agar tidak semakin tegang. Dia pun bergegas merapihkan dan mempacking dipan tersebut.
Sampai malam, setelah rumah selesai dirapihkan oleh petugas Go-Clean. Suami bilang sendiri bahwa tukang kayu yang akan menjadi tempat reparasi dipan tersebut pindah entah kemana. Suami berencana mereparasi lalu menjualnya. Yah, walaupun akhirnya dipan tersebut masih saja teronggok di garasi, setidaknya sudah jelas nasibnya dan kami melakukan komunikasi ini dengan cukup baik.
Nasi Jagal Yang Berubah Menjadi Sate Padang
Kemarin suami berangkat kerja lumayan pagi, sehingga tidak banyak komunikasi yang kami lakukan karena ia harus cepat pergi. Setelah itu, ketika saya chat melalui What's Up sama sekali tidak dibaca apalagi dibalas. Sampai ba'da magrib saya telepon, ia sedang di luar untuk makan malam. Setelah itu, ia mengabari sedang sangat sibuk dan sedang melakukan troubleshooting. Ia pun baru pulang setelah subuh. 😢
Jadi kemarin komunikasi kami benar-benar sangat minim. Tidak ada yang bisa aku laporkan. Lagi-lagi pekerjaannya sangat menyita waktu dan tenaga. Semoga saja tidak ada hambatan untuk ia bekerja di perusahaan baru setelah lebaran nanti. Mohon do'anya. Maaf juga laporan ini menjadi media curhat hehe.
Berlanjut ke hari ini. Sabtu dan minggu memang menjadi hari yang sangat kutunggu. Walaupun kadang suami masih harus membawa pekerjaan ke rumah atau bisa tiba-tiba ada dinas dan keluar kota. Karena itulah, aku cukup membatasi kegiatan di weekend karena ingin memaksimalkan kebersamaan dengan suami.
Weekend seperti ini yang sering menjadi pembahasan memang mau ke mana dan makan apa, karena biasanya memang aku jarang masak saat weekend. Kalau sekarang ini lain cerita, hampir setiap hari jarang masak karena mood makan yang ga bagus juga.
Sejak kemarin aku bilang suami ingin makan nasi jagal. Lalu siang ini suami mengajak untuk pergi jalan makan nasi jagal langsung di kawasan Bendungan Pintu 10 Cisadane. Lalu sorenya.
"Mi, naik motor aja ya. Malem
Minggu begini nggak sanggup bawa ke sana, macet pasti jalannya."
"Yah bi. Ga segitu macet amat lah. Nanti cek google map dulu aja, kalau nggak macet naik mobil ya. Perutku agak nggak enak."
"Ok".
Kemudian saat ba'da Magrib, aku pun sudah siap berangkat. Tapi seperti biasanya yang terjadi dalam beberapa minggu ini, perutku rasanya kencang dan penuh sekali. Sedikit lapar tapi nafsu makan langsung hilang. Rasanya untuk pergi pun jadi tidak ada energi. Jadi aku harus komunikasikan dengan suamiku keadaan ini dan membatalkan rencana pergi kami.
"Bi, perutku nggak enak banget. Kayaknya aku nggak bisa pergi. Kita beli makan aja ya makannya di rumah. Kamu kira-kira mau makan apa?" Kataku dengan jelas dan mempraktekkan kaidah 7-38-55.
"Yah, jadi nggak mau berangkat nih?" Katanya mengklarifikasi.
"Iya Bi, nggak enak banget ini. Seharian juga belum BAB sih masalahnya." Jelasku lagi.
"Yauda jadinya makan apa? Aku mah gampang. Sate padang mau?"
"Iya boleh deh sate padang, nggak usah pake lontong ya."
"Kamu nggak mau ikut?"
"Hehe, iya aku tunggu di rumah aja ya, kamu tolong jalan sendiri. Aku butuh rebahan sebentar." Ini agak menyebalkan memang, tapi kondisiku sendiri memang suka tiba-tiba nggak sanggup beranjak gini huhu.
"Yasudah, tunggu ya."
Akhirnya paksu pun jalan sendiri, membawakanku sate padang dan untuknya sendiri ia beli bakso.
Setelah menulis laporan ini, walaupun komunikasi berjalan baik, suami menerima makna yang kusampaikan, tapi aku jadi tersadar masih ada yang harus aku perbaiki. Di awal tadi saat membatalkan rencana pergi, aku tidak mengatakan permintaan maaf. Padahal suami mengajak pergi pun karena kemauan aku ingin makan nasi jagal dan kondisinya semua sudah rapih tinggal berangkat. Memang kata maaf itu menjadi kata ajaib yang sulit diucapkan kalau tidak dibiasakan. Alhamdulillah ada pelajaran lagi, semoga besok bisa memperbaiki.
Rumah Yang Berantakan
Hari ini baru bisa menerapkan komunikasi produktif menuju jam 12 malam. Ya, karena suami saja baru pulang jam 11 malam. Ini lebih cepat dari biasanya sih sebenarnya.
Sangat terasa sekali penerapan komunikasi produktif dengan pasangan jauh lebih menantang dibandingkan dengan anak. Lagi-lagi background yang berbeda salah satu penyebabnya, disusul sebagai perempuan yang punya sisi karakter dominasi tinggi dan sensitifitas yang lumayan besar, aku sadari ini sangat bertabrakan dengan kodrat suami sebagai pemimpin dan tidak ingin merasa lebih rendah dibandingkan istri. Tapi ya terkadang memang masih sulit menekan karakter yang sudah tersemat ini. Alhamdulillahnya masih sama-sama bisa meredakan ketika salah satu sedang keras. Semoga aku sendiri bisa lebih baik lagi.
Balik lagi ke komunikasi produktif yang aku lakukan. Karena keadaanku yang sedang payah hari ini serta Alesya yang aktifnya tidak terkondisikan. Ada beberapa perkerjaan rumah yang terbengkalai. Beberapa hari kemarin suami bisa mengerti bahkan membantu merapihkan, tapi hari ini ia sedang lumayan lelah dan merasa terganggu karena harus melanjutkan pekerjaan setelah sampai di rumah. Dan kebetulan tidak seperti biasanya, ia ingin bekerja di kamar.
"Ini nggak tersentuh sama sekali kayaknya ya."
Aku agak panas menerima kritikan yang to the poin seperti itu. Berharap ia mengerti kondisiku hehe. Tapi kucoba untuk merespon dengan tenang.
"Iya ini kamar belum diberesin. Seharian udah bolak balik nyapu luar juga."
Suami tidak merespon sambil fokus dengan laptopnya.
"Besok order Go-Clean aja ya bi. Sekalian kan sabtu mau ada yang ke rumah biar dirapihin semua." Lanjutku to the point dan clear tanpa kode-kode.
"Loh bukannya hari minggu?" Jawabnya menoleh.
"Eh emang tanggal 7 itu hari apa?" Balikku malah bertanya.
"Hari minggu Yang."
Aku langsung melihat kalender di handphone dan menyadari otakku yang sedang ikutan payah seperti badanku haha.
"Oh iya ya hehe. Lupa aku." Jawabku cengengesan.
"Yauda tolong ambilin charger laptop di kamar sebelah." Alihnya.
Seperti biasa, suami kadang suka tidak menuntaskan pembahasam dan ada saja hal lain yang mengalihkan. Tapi memang dalam hal ini, ia selalu setuju saja aku mencari bantuan untuk merapihkan rumah. Bahkan sejak dulu ia menawarkan ART yang bekerja beberapa jam setiap harinya, tapi aku yang terus menolak karena masih merasa mampu dan tidak ingin boros pengeluaran.
Memang masih banyak sekali hal yang perlu diperbaiki dari cara berkomunikasi kami. Beberapa kali kami pun sudah membahas, tapi memang masih harus sama-sama belajar dan berusaha.
Berusaha Selalu Meminta Ijin
Hatiku tergerak untuk ikut membantu. Senang rasanya melihat banyak orang yang sudah membantu, dalam beberapa hari dana yang terkumpul sudah lumayan banyak sekali.
Sebelum menjalankan niatku, aku ingin meminta ijin suami terlebih dahulu. Karena walaupun keuangan aku yang mengatur dan yang akan aku lakukan ini adalah niat baik yang pastinya tidak akan ia tolak, tapi bagaimanapun aku tetap harus meminta izin dan ridhonya.
Tadi saat kami sedang duduk bersantai, aku mulai bercerita tentang keadaan anak yang sakit itu, Keano namanya. Kupikir itu waktu yang tepat untuk bercerita. Dan benar saja, suami mendengarkan dengan serius bahkan terlihat penasaran.
Kuceritakan sesuai isi dari Instagram Story kenalanku itu. Selama ini, Keano sehat, pertumbuhan dan perkembangannya baik, tidak ada keluhan apapun. Hanya berat badannya sempat stuck, tidak jelas berapa bulan tapi dari fotonya masih terlihat montok. Sampai akhirnya, tiba-tiba ada benjolan keras di sekitar bawah dada. Orang tuanya langsung membawa Keano ke rumah sakit untuk CT Scan. Hasilnya seperti tumor, tapi samar sehingga dokter meminta usg dan tes lain.
Setelah keluar hasilnya, semua keluarga kaget karena Keano divonis kanker hati langka. Kondisinya drastis langsung menurun, lemas tidak nafsu makan, hingga perut membuncit. Saat ini ia sedang diikhtiarkan kemoterapi herbal. Dokter sebenarnya meminta kemoterapi seperti biasanya di Rumah Sakit, tapi orang tuanya masih belum sanggup mengingat efek samping yang akan didapat Keano nanti. Rencananya kalau proses kemoterapi dan pengobatan saat ini sudah dapat mengecilka sedikit ukuran tumor agar lebih jauh dari jantung, Keano akan dioperasi.
Setelah aku selesai cerita dan belum sempat bicara tentang niatku, suami langsung bertanya klarifikasi. Terlihat wajahnya tegang.
"Terus, maksud kamu cerita ke aku apa?"
Aku menangkap kekhawatirannya. Jangan-jangan aku cerita ini karena takut Alesya juga kenapa-kenapa. Karena 2 bulan ini berat badan Alesya juga stuck. Lalu aku langsung menjelaskan.
"Gak apa bi, ini aku cuma cerita aja. Maksudnya aku mau ikut kasih bantuan, jadi aku ngomong sama kamu."
"Oh gitu, yasudah." Jawabnya.
Seringkali memang kalau bercerita suatu hal, aku baru mengungkapkan maksudku setelah cerita selesai. Hari ini jadi pembelajaran buatku, sebelum bercerita yang akan panjang melebar, lebih baik mengungkapkan apa yang kumaksud di awal sehingga suami tidak keliru memaknai cerita.








