Harapan Perubahan

Dengan adanya tantangan Komunikasi Produktif ini, aku semakin sadar betapa buruknya caraku dan suami berkomunikasi saat ini, seringkali lumayan jauh dari kaidah Komunikasi Produktif. Terlebih dengan keadaan yang sangat menantang bagi kami beberapa bulan ini, yang sudah saya jelaskan kemarin. Kami berdua pun memang memiliki FoR dan FoE yang cukup bertentangan, yang sangat jelas sekali terlihat utamanya ketika sedang berkonflik.

Di hari kedua ini karena mendadak suami ada pekerjaan migrasi aplikasi semalam lalu lanjut meeting dan menyelesaikan pekerjaannya yang lain, jadilah ia tidak pulang ke rumah. Seperti biasa kami lebih banyak berkomunikasi melalui whatsapp, telepon, dan video call. Yang mana memang jadi lebih banyak hambatannya dibandingkan dengan komunikasi secara tatap muka.

Setibanya suami di rumah ba'da isya, ada kabar baik yang kami terima. Alhamdulillah, Allahu Akbar, Allah mengabulkan do'a kami berdua. Suami mendapat kabar bahwa ia diterima di perusahaan yang beberapa minggu lalu ia datangi untuk interview. Ia pun diberi kelonggaran waktu untuk dapat masuk ke perusahaan tersebut setelah Idul Fitri, sesuai dengan yang suami harapkan.

Suami menekankan, "Alhamdulillah, aku pingin banget masuk ke situ."

Aku mengiyakan tanpa berkomentar. Dalam hati aku pun sangat bersyukur. Sebelumnya memang kami sudah membicarakan tentang ini. Aku pun sangat paham bahwa ia sudah penat dengan pekerjaannya sekarang yang sangat menguras pikiran, waktu, dan tenaga. Dan hal ini juga lah yang sangat mengganggu kelancaran komunikasi kami tentunya.

Kemudian suami berkata, "Aku sebenernya takut mengecewakan. Takut gak sesuai ekspektasi dan apa yang mereka butuhkan, apalagi mereka udah mau nunggu aku abis lebaran."

Kurespon sambil mempraktekkan kaidah 7-38-55, "Jangan berpikiran begitu, kamu harus optimis. Kan jadi masih punya banyak waktu buat belajar. Kamu tanya-tanya apa yang harus dikerjain nanti, problem-problem apa aja yang biasanya ada. Bisa kok kamu sambil ngurusin kerjaan sambil belajar."

Lagi-lagi memang pekerjaan yang didapatkan suami butuh skill berbeda, meskipun sama-sama di bidang IT. Aku sangat paham rasa kurang percaya dirinya saat ini.

Lalu tanpa penutup, obrolan kami berakhir. Ya, memang seringnya seperti itu. Kalau dulu, kami suka kesana-kemari membahas banyak hal ketika sedang mengobrol serius. Tapi dengan adanya Alesya dan waktu suami yang terbatas saat ini, seringnya obrolan kami teralihkan karena Alesya sudah mulai cari perhatian. Obrolan kali ini memang spontan sehingga kurang tepat waktunya.

Semoga di tanggal merah besok, kualitas komunikasi kami semakin menjadi baik. Aaamiin.

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...

Total Pageviews