Dipan Yang Teronggok

Hari ini cukup melelahkan karena alhamdulillah dipercayakan menjadi tuan rumah kopdar komunitas Ruang Laktasi. Komunitas ini adalah komunitas ibu-ibu pertama yang aku ikuti. Alhamdulillah dari Alesya umurnya baru 2 atau 3 bulan sampai sekarang 19 bulan, komunikasi kami masiu terjalin baik.

Biasanya setiap ada pertemuan yang dilakukan di rumah, aku langsung memanggil jasa Go-Clean agar lebih ringan merapihkan seluruh rumah. Tapi kali ini kupikir lebih baik setelah tamu pulang, barulah memanggil Go-Clean dengan pertimbangan sore-malam hari adalah waktunya energiku drop dan perut yang sering tidak karuan karena kehamilan kedua ini. Jadi pastinya aku tidak akan sanggup untuk merapihkan rumah lagi.

Pekerjaan tadi pagi, aku fokus merapihkan bagian dalam rumah sementara suami bagian luar rumah dan garasi. Lalu suami membongkar kerangka dipan pemberian Uwak kami, yang telah teronggok di garasi selama beberapa bulan. Ia pun mendapati kotoran tikus yang begitu banyak. Aku yang melihat hal itu semakin keras ingin dipan tersebut segera diberikan kepada orang lain.

Sebelumnya suami sudah menawarkan kakaknya untuk menggunakan dipan tersebut dengan telebih dahulu me-reparasinya, karena kondisinya yang sudah banyak kerusakan dan perlu difurnish ulang.

"Memang gimana Mas Ais Bi, mau pakai nanti?" Tanyaku langsung.

"Nggak tau. Diem aja nggak ada jawaban."

"Mas Ais pasti nggak mau Bi, kamu kan tau sendiri pasti maunya beli model baru." Jawabku dengan pendapatku sendiri sesuai dengan referensi dari kebiasaan yang diperlihatkan kakak.

"Ya tapi ini kan kayu jati, Mi. Sayang, kayu bagus."

"Terus gimana dong? Mas Ais kan kayaknya nggak mau. Masa mau dibiarin aja di sini?"

"Makanya aku bilang kan pakai sendiri."

Selama beberapa bulan ini akhirnya dipan tersebut terus teronggok di garasi, karena memang aku menolak menggunakannya. Sementara suami merasa dipan tersebut bernilai antik dan tidak ingin menjualnya ke tukang loak, meskipun harus me-reparasinya dengan harga lumayan mahal.

Aku menarik nafas, mencoba untuk merespon suami menggunakan kalimat yang jelas dan baik. Menurutku saat ini, pas ketika suami membongkarnya, adalah saat yang tepat untuk memutuskan nasib dipan tersebut.

"Gini Bi. Mumpung lagi dibongkar. Mending kamu putusin mau dikemanain dipannya. Kalau aku sampai sekarang masih nggak mau pakai. Apalagi kita sebentar lagi punya bayi, jadi aku masih lebih nyaman tanpa dipan biar aman. Kamar juga malah jadi sempit kalau pakai dipan. Nah kalau dibiarin aja di sini malah semakin rusak. Karena Mas Ais juga nggak mau pakai, mendingan jual aja langsung Bi."

"Sayang, Mi. Kalau nggak mau pakai sekarang nggak apa-apa. Aku reparasi dulu nanti simpen yang lebih rapih."

"Mau disimpen di mana, Bi? Di belakang juga kondisi nggak memungkinkan, lembab, sayang kan udah direparasi mahal terus disimpen malah jadi jelek lagi."

Pembicaraan dipan ini sempat membuat agak tegang. Selain hal yang aku sampaikan ke suami tadi. Aku pun memang banyak pertimbangan lain yang sebelumnya sudah pernah aku sampaikan, seperti saat ini kami masih ngontrak, aku tidak ingin menyimpan banyak barang apalagi yang tidak digunakan sehingga menyulitkan kami sendiri semisal nanti harus pindah. Jika nanti pun kami mempunyai rumah (yang mana sampai sekarang masih bersabar menabung agar tidak terjerat hutang dan riba) aku ingin menambah kesabaran mewujudkan konsep rumah dengan furniture bergaya minimalis. Hehe, memang sudah menjadi impian sejak dulu, jadi model dipan (model dulu) tersebut tidak masuk kriteria furniture yang aku inginkan, setipe deh sama kakak suami hihi.

"Yasudah, itu kan aku yang nggak mau. Silahkan kamu mau putusin gimana. Yang penting aku minta diputusin sekarang jangan dinanti-nanti lagi ya."

Aku pasrah suami mau apakan dipan tersebut. Kalaupun mau direparasi dan digunakan, aku akan berusaha menerima keputusan suami. Fokusku akhirnya adalah membuat dipan tersebut jelas kegunaannya, tidak menjadi sarang kotoran, dan tidak merusak pemandangan garasi rumah yang terlihat dari luar.

Suami tidak memberiku penjelasan keputusannya. Aku tidak bertanya lagi, agar tidak semakin tegang. Dia pun bergegas merapihkan dan mempacking dipan tersebut.

Sampai malam, setelah rumah selesai dirapihkan oleh petugas Go-Clean. Suami bilang sendiri bahwa tukang kayu yang akan menjadi tempat reparasi dipan tersebut pindah entah kemana. Suami berencana mereparasi lalu menjualnya. Yah, walaupun akhirnya dipan tersebut masih saja teronggok di garasi, setidaknya sudah jelas nasibnya dan kami melakukan komunikasi ini dengan cukup baik.

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...

Total Pageviews