Laporan tantangan hari ke-5 terpaksa harus mudur 1 hari. Benar saja, melakukan tantangan ini dengan pasangan sungguh menjadi sebenar-benarnya tantangan. Kemarin aku tidak bisa menulis laporan bukan karena lupa atau terlalu sibuk dengan urusan lain, tapi memang karena komunikasi dengan suami yang sangat sedikit.
Kemarin suami berangkat kerja lumayan pagi, sehingga tidak banyak komunikasi yang kami lakukan karena ia harus cepat pergi. Setelah itu, ketika saya chat melalui What's Up sama sekali tidak dibaca apalagi dibalas. Sampai ba'da magrib saya telepon, ia sedang di luar untuk makan malam. Setelah itu, ia mengabari sedang sangat sibuk dan sedang melakukan troubleshooting. Ia pun baru pulang setelah subuh. 😢
Jadi kemarin komunikasi kami benar-benar sangat minim. Tidak ada yang bisa aku laporkan. Lagi-lagi pekerjaannya sangat menyita waktu dan tenaga. Semoga saja tidak ada hambatan untuk ia bekerja di perusahaan baru setelah lebaran nanti. Mohon do'anya. Maaf juga laporan ini menjadi media curhat hehe.
Berlanjut ke hari ini. Sabtu dan minggu memang menjadi hari yang sangat kutunggu. Walaupun kadang suami masih harus membawa pekerjaan ke rumah atau bisa tiba-tiba ada dinas dan keluar kota. Karena itulah, aku cukup membatasi kegiatan di weekend karena ingin memaksimalkan kebersamaan dengan suami.
Weekend seperti ini yang sering menjadi pembahasan memang mau ke mana dan makan apa, karena biasanya memang aku jarang masak saat weekend. Kalau sekarang ini lain cerita, hampir setiap hari jarang masak karena mood makan yang ga bagus juga.
Sejak kemarin aku bilang suami ingin makan nasi jagal. Lalu siang ini suami mengajak untuk pergi jalan makan nasi jagal langsung di kawasan Bendungan Pintu 10 Cisadane. Lalu sorenya.
"Mi, naik motor aja ya. Malem
Minggu begini nggak sanggup bawa ke sana, macet pasti jalannya."
"Yah bi. Ga segitu macet amat lah. Nanti cek google map dulu aja, kalau nggak macet naik mobil ya. Perutku agak nggak enak."
"Ok".
Kemudian saat ba'da Magrib, aku pun sudah siap berangkat. Tapi seperti biasanya yang terjadi dalam beberapa minggu ini, perutku rasanya kencang dan penuh sekali. Sedikit lapar tapi nafsu makan langsung hilang. Rasanya untuk pergi pun jadi tidak ada energi. Jadi aku harus komunikasikan dengan suamiku keadaan ini dan membatalkan rencana pergi kami.
"Bi, perutku nggak enak banget. Kayaknya aku nggak bisa pergi. Kita beli makan aja ya makannya di rumah. Kamu kira-kira mau makan apa?" Kataku dengan jelas dan mempraktekkan kaidah 7-38-55.
"Yah, jadi nggak mau berangkat nih?" Katanya mengklarifikasi.
"Iya Bi, nggak enak banget ini. Seharian juga belum BAB sih masalahnya." Jelasku lagi.
"Yauda jadinya makan apa? Aku mah gampang. Sate padang mau?"
"Iya boleh deh sate padang, nggak usah pake lontong ya."
"Kamu nggak mau ikut?"
"Hehe, iya aku tunggu di rumah aja ya, kamu tolong jalan sendiri. Aku butuh rebahan sebentar." Ini agak menyebalkan memang, tapi kondisiku sendiri memang suka tiba-tiba nggak sanggup beranjak gini huhu.
"Yasudah, tunggu ya."
Akhirnya paksu pun jalan sendiri, membawakanku sate padang dan untuknya sendiri ia beli bakso.
Setelah menulis laporan ini, walaupun komunikasi berjalan baik, suami menerima makna yang kusampaikan, tapi aku jadi tersadar masih ada yang harus aku perbaiki. Di awal tadi saat membatalkan rencana pergi, aku tidak mengatakan permintaan maaf. Padahal suami mengajak pergi pun karena kemauan aku ingin makan nasi jagal dan kondisinya semua sudah rapih tinggal berangkat. Memang kata maaf itu menjadi kata ajaib yang sulit diucapkan kalau tidak dibiasakan. Alhamdulillah ada pelajaran lagi, semoga besok bisa memperbaiki.
Kemarin suami berangkat kerja lumayan pagi, sehingga tidak banyak komunikasi yang kami lakukan karena ia harus cepat pergi. Setelah itu, ketika saya chat melalui What's Up sama sekali tidak dibaca apalagi dibalas. Sampai ba'da magrib saya telepon, ia sedang di luar untuk makan malam. Setelah itu, ia mengabari sedang sangat sibuk dan sedang melakukan troubleshooting. Ia pun baru pulang setelah subuh. 😢
Jadi kemarin komunikasi kami benar-benar sangat minim. Tidak ada yang bisa aku laporkan. Lagi-lagi pekerjaannya sangat menyita waktu dan tenaga. Semoga saja tidak ada hambatan untuk ia bekerja di perusahaan baru setelah lebaran nanti. Mohon do'anya. Maaf juga laporan ini menjadi media curhat hehe.
Berlanjut ke hari ini. Sabtu dan minggu memang menjadi hari yang sangat kutunggu. Walaupun kadang suami masih harus membawa pekerjaan ke rumah atau bisa tiba-tiba ada dinas dan keluar kota. Karena itulah, aku cukup membatasi kegiatan di weekend karena ingin memaksimalkan kebersamaan dengan suami.
Weekend seperti ini yang sering menjadi pembahasan memang mau ke mana dan makan apa, karena biasanya memang aku jarang masak saat weekend. Kalau sekarang ini lain cerita, hampir setiap hari jarang masak karena mood makan yang ga bagus juga.
Sejak kemarin aku bilang suami ingin makan nasi jagal. Lalu siang ini suami mengajak untuk pergi jalan makan nasi jagal langsung di kawasan Bendungan Pintu 10 Cisadane. Lalu sorenya.
"Mi, naik motor aja ya. Malem
Minggu begini nggak sanggup bawa ke sana, macet pasti jalannya."
"Yah bi. Ga segitu macet amat lah. Nanti cek google map dulu aja, kalau nggak macet naik mobil ya. Perutku agak nggak enak."
"Ok".
Kemudian saat ba'da Magrib, aku pun sudah siap berangkat. Tapi seperti biasanya yang terjadi dalam beberapa minggu ini, perutku rasanya kencang dan penuh sekali. Sedikit lapar tapi nafsu makan langsung hilang. Rasanya untuk pergi pun jadi tidak ada energi. Jadi aku harus komunikasikan dengan suamiku keadaan ini dan membatalkan rencana pergi kami.
"Bi, perutku nggak enak banget. Kayaknya aku nggak bisa pergi. Kita beli makan aja ya makannya di rumah. Kamu kira-kira mau makan apa?" Kataku dengan jelas dan mempraktekkan kaidah 7-38-55.
"Yah, jadi nggak mau berangkat nih?" Katanya mengklarifikasi.
"Iya Bi, nggak enak banget ini. Seharian juga belum BAB sih masalahnya." Jelasku lagi.
"Yauda jadinya makan apa? Aku mah gampang. Sate padang mau?"
"Iya boleh deh sate padang, nggak usah pake lontong ya."
"Kamu nggak mau ikut?"
"Hehe, iya aku tunggu di rumah aja ya, kamu tolong jalan sendiri. Aku butuh rebahan sebentar." Ini agak menyebalkan memang, tapi kondisiku sendiri memang suka tiba-tiba nggak sanggup beranjak gini huhu.
"Yasudah, tunggu ya."
Akhirnya paksu pun jalan sendiri, membawakanku sate padang dan untuknya sendiri ia beli bakso.
Setelah menulis laporan ini, walaupun komunikasi berjalan baik, suami menerima makna yang kusampaikan, tapi aku jadi tersadar masih ada yang harus aku perbaiki. Di awal tadi saat membatalkan rencana pergi, aku tidak mengatakan permintaan maaf. Padahal suami mengajak pergi pun karena kemauan aku ingin makan nasi jagal dan kondisinya semua sudah rapih tinggal berangkat. Memang kata maaf itu menjadi kata ajaib yang sulit diucapkan kalau tidak dibiasakan. Alhamdulillah ada pelajaran lagi, semoga besok bisa memperbaiki.


No comments:
Post a Comment
Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...